Sabtu, 23 April 2011

Islamisasi Ilmu Pengetahuan

BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Islamisasi Ilmu Pengetahuan
Islamisasi, ditinjau dari katanya berasal dari akar kata Islam. Secara etimologi berarti tunduk/pasrah dan patuh. Sedang terminologi adalah agama yang menganjurkan sikap pasrah kepada Tuhan yang dalam bentuk yang diajarkan melalui Rasulullah SAW. yang berpedoman pada kitab suci al-Qur’an yang diturunkan ke dunia melalui wahyu Allah SWT. Islamisasi sendiri bermakna pengislaman.
Islamisasi Ilmu Pengetahuan sebuah gagasan yang timbul sejak dasawarsa 1970-an. Kata “islami” mengandung dua makna yang kurang lebih berbeda. Pertama, kata Islami menunjukkan suatu periode sejarah, kedua, menunjukkan suatu aktivitas yang mengandung Nilai-nilai Islam. Sedangkan arti dari ilmu pengetahuan, menurut Sayid Husein Nasr seorang tokoh pertama dalam pembicaraan wacana baru tentang ilmu pengetahuan dan Islam di Teheran, Iran, tahun 1933, ia menyebut, (berbeda dengan yang biasa diutarakan oleh kebanyakan ilmuwan) ilmu pengetahuan dengan Scientia Sacra (Sacred science, “ilmu sakral”) untuk menunjukkan bahwa aspek kearifan ternyata jauh lebih penting dari pada aspek teknologi yang sampai saat ini masih menjadi ciri utama ilmu pengetahuan modern .
Pengislaman Ilmu atau Islamisasi ilmu, Dalam bahasa Arab Islamisasi ilmu disebut sebagai “Islamiyyat al-Ma’rifat” dan dalam bahasa Inggris disebut sebagai “Islamization of Knowledge”. Dalam Islam, ilmu merupakan perkara yang amat penting malahan menuntut ilmu diwajibkan semenjak lahir hingga ke liang lahad. Ayat al-Quran yang pertama yang diturunkan berkaitan dengan ilmu yaitu surah al-’Alaq ayat 1-5. Menurut ajaran Islam, ilmu tidak bebas nilai sebagaimana yang dikembangkan ilmuan Barat akan tetapi sarat nilai, dalam Islam Ilmu dipandang universal dan tidak ada pemisahan antara Ilmu-ilmu dalam Islam.
Oleh kerana itu, sejarah dalam dunia ilmu Islam dahulu telah melahirkan ulama yang terkemuka yang dapat menguasai ilmu-ilmu “dunia” dan “akhirat”. Mereka berusaha menyeimbangkan ide-ide besar dalam tamadun yang lain dengan ajaran agama Islam. Ini dapat dilihat sebagai contoh seperti al-Kindi, Ibnu Sina, al-Ghazali, dan lain-lain. Mereka berusaha mengetengahkan beberapa ide dasar dan mempertemukan ilmu “luar“ dengan ajaran Islam. Perbedaannya, mereka tidak mengunakan istilah “pengislaman Ilmu” kala itu kerana pada saat itu umat Islam begitu cemerlang dalam ilmu pengetahuan.
Sesungguhnya usaha pengislaman ilmu ini telah terjadi sejak zaman Rasulullah SAW dan para sahabat pada saat turunnya Al-Qur’an dalam bahasa Arab. Al-Quran telah membawa bahasa Arab ke arah penggunaan yang lebih menenangkan dan damai sehingga merubah watak, perangai dan tingkah laku orang Arab ketika itu. Al-Quran juga merubah pandangan hidup mereka tentang alam semesta dan kehidupan dunia. Pengislaman ilmu ini diteruskan oleh para sahabat, tabi’in dan ulama-ulama sehingga umat Islam mencapai kegemilangan dalam ilmu. Oleh karena itu, islamisasi dalam arti kata yang sebenarnya bukanlah perkara baru. Cuma dalam konteks “kerangka operasional” pengislaman Ilmu-ilmu masa sekarang dicetuskan semula oleh tokoh-tokoh ilmuwan Islam seperti Prof. Syed Muhammad Naquib al-Attas, Al-Faruqi, Fazlur Rahman, Syed Hussein Nasr dan lain-lain.
Islamisasi ilmu ini menjadi perdebatan utama di kalangan para intelektual Islam semenjak tahun 1970-an. Walaupun ada sarjana muslim membicarakannya tetapi tidak secara teperinci dan mendalam mengenai konsep dan kerangka pengislaman ilmu. Umpamanya seperti, Syed Hussein Nasr, Fazlur Rahman, Jaafar Syeikh Idris.
Maka dapat dikatakan bahwa gagasan islamisasi ilmu pengetahuan sebagai fenomena modernitas, menarik untuk dicermati. Pada era dimana peradaban modern-sekuler mencengkeram negeri-negeri Muslim dengan kukuhnya, pemunculan wacana Islamisasi ilmu pengetahuan dapat dibaca sebagai sebuah “kontra-hegemoni” ataupun “diskursus perlawanan”. Ia hadir untuk menunjukkan identitas sebuah peradaban yang sekian lama diabaikan. Tapi, sebuah “kontra-hegemoni” ataupun “diskursus perlawanan”, adakalanya memunculkan problema dan kontradiksinya sendiri. Itulah yang ingin coba ditelusuri dalam tulisan ini .

B. Pemikiran Islamisasi Ilmu Pengetahuan
Konstruk intelektual yang dinisbatkan pada peradaban tertentu, biasanya memiliki spektrum yang cukup luas. Ia tidak bisa dibaca sebagai sesuatu yang tunggal dan serba seragam. Demikian halnya dengan gagasan islamisasi ilmu pengetahuan yang mulai ramai diperbincangkan pada tahun 1970-an. Pada tahap perekembangan mutakhirnya, model islamisasi ilmu pengetahuan yang diajukan oleh berbagai sarjana muslim dari berbagai disiplin ilmu, bisa dibedakan baik dari sisi pendekatan dan konsepsi dasarnya. Terlebih pula jika melihat konstruk ilmu pengetahuan yang merupakan output dari pendekatan dan konsepsi dasar tersebut.
Namun ada beberapa konsep-konsep dasar yang menjadi titik persamaan gagasan islamisasi ilmu pengetahuan yang diajukan berbagai sarjana Muslim. Misalnya jika kita melihat pada dua nama yang cukup berpengaruh di dunia Islam dan dipandang sebagai pelopor gerakan islamisasi ilmu pengetahuan Syed Muhamamd Naquib al-Attas dan Ismail Raji al-Faruqi. Bagi Al-Atas misalnya, islamisasi ilmu pengetahuan mengacu kepada upaya mengeliminir unsur-unsur serta konsep-konsep pokok yang membentuk kebudayaan dan peradaban Barat, khususnya dalam ilmu-ilmu kemanusiaan. Tercakup dalam unsur-unsur dan konsep ini adalah cara pandang terhadap realitas yang dualistik, doktrin humanisme, serta tekanan kepada drama dan tragedi dalam kehidupan rohani sekaligus penguasaan terhadapnya. Setelah proses ini dilampaui, langkah berikutnya adalah menanamkan unsur-unsur dan konsep pokok keislaman. Sehingga dengan demikian akan terbentuk ilmu pengetahuan yang benar ilmu pengetahuan yang selaras dengan fitrah. Dalam bahasa lain, islamisasi ilmu pengetahuan menurut Al-Atas dapat ditangkap sebagai upaya pembebasan ilmu pengetahuan dari pemahaman berasaskan ideologi, makna serta ungkapan sekuler. Singkatnya menurut Al-Attas sukses tidaknya pengembangan islamisasi ilmu tergantung pada posisi manusia itu sendiri (subjek ilmu dan teknologi) .
Sementara menurut Ismail al Faruqi, islamisasi ilmu pengetahuan dimaknai sebagai upaya pengintegrasian disipilin-disiplin ilmu modern dengan khazanah warisan Islam. Langkah pertama dari upaya ini adalah dengan menguasai seluruh disiplin ilmu modern, memahaminya secara menyeluruh, dan mencapai tingkatan tertinggi yang ditawarkannya. Setelah prasyarat ini dipenuhi, tahap berikutnya adalah melakukan eliminasi, mengubah, menginterpretasikan ulang dan mengadaptasikan komponen-komponennya dengan pandangan dunia Islam dan nilai-nilai yang tercakup di dalamnya.
Dalam deskripsi yang lebih jelas, islamisasi ilmu pengetahuan menurut al-Faruqi adalah “upaya mewujudkan prinsip-prinsip Islam dalam metodologinya, strateginya, dan dalam apa yang dikatakan sebagai data-data, problemnya, tujuan-tujuannya dan aspirasi-aspirasinya.” Terkait dengan ini maka setiap disiplin ilmu mesti dirumuskan sejak awal dengan mengkaitkan Islam sebagai kesatuan yang membentuk tauhid, yaitu kesatuan pengetahuan, kesatuan kehidupan dan kesatuan sejarah. Ia harus didefinisikan dengan cara baru, data-datanya diatur, kesimpulan-kesimpulan dan tujuan-tujuannya dinilai dan dipikir ulang dalam bentuk yang dikehendaki Islam.
Di samping beberapa kesamaan pola dasar islamisasi ilmu pengetahuan sebagaimana dapat dilihat dari paparan di atas, agaknya ada segaris perbedaan di antara Alatas dan al-Faruqi. Al-Faruqi tampaknya lebih bisa menerima konstruk ilmu pengetahuan modern – yang penting baginya adalah penguasaan terhadap prinsip-prinsip Islam yang dengannya sarjana Muslim bisa membaca dan menafsirkan konstruk ilmu pengetahuan modern tersebut dengan cara yang berbeda. Sementara Alatas – disamping pengaruh sufisme yang cukup kuat, antara lain dengan gagasan digunakannya takwil dalam kerangka islamisasi ilmu pengetahuannya– lebih menekankan pada dikedepankannya keaslian (originality) yang digali dari tradisi lokal. Dalam pandangan Al-atas, peradaban Islam klasik telah cukup lama berinteraksi dengan peradaban lain, sehingga umat Islam sudah memiliki kapasitas untuk mengembangkan bangunan ilmu pengetahuan sendiri. Tanpa bantuan ilmu pengetahuan barat modern, diyakini dengan merujuk pada khazanahnya sendiri umat Islam akan mampu menciptakan kebangkitan peradaban.
Agaknya, perbedaan semacam ini, disamping faktor-faktor personal, yang membuat keduanya memilih mengembangkan gagasannya di lembaga yang berbeda. Jika Al-Attas kemudian berkutat di International Institute of Islamic Thoughts and Civilization (ISTAC) yang berbasis di Malaysia. Al-Attas memformulasi dua tujuan pertama dari ISTAC:
1. Untuk mengonseptualisasi, menjelaskan dan mendefinisikan konsep-konsep penting yang relevan dalam masalah-masalah budaya, pendidikan, keilmuan dan epistimologi yang dihadapi muslim pada zaman sekarang ini.
2. Untuk memberikan jawaban Islam terhadap tantangan-tantangan intelektual dan kultural dari dunia modern dan berbagai kelompok aliran-aliran pemikiran, agama, dan ideologi.
Al-Faruqi menyebarkan gagasannya lewat International Institute of Islamic Thoughts (IIIT) yang berbasis di Washington DC, Amerika Serikat. IIIT mendefinisikan dirinya sebagai sebuah “yayasan intelektual dan kultural”. Menyediakan wawasan Islam yang koprehensif melalui penjelasan prisnsi-prinsip Islam dan menghubungkannya dengan isu-isu yang relevan dari pemikiran kontemporer. Meraih kembali identitas intelektual, kultural dan peradaban umat, lewat Islamisasi humanitas dan ilmu-ilmu sosial.

 Srategi dan kerangka kerja dasar islamisasi ilmu pengetahuan
Terdapat beberapa model skematis dalam upaya islamisasi ilmu pengetahuan, Al Faruqi misalnya menggagaskan sebuah rencana kerja dengan dua belas langkah :
1. Penguasaan disiplin ilmu modern, penguasaan katagoris. Disiplin ilmu modern harus dipecah menjadi kategori-kategori, prinsip-prinsip metodologi-metodologi, problem-problem dan tema-tema yang kemudian hasilnya berupa kalimat istilah teknis.
2. Survei disiplin ilmu, setiap disiplin ilmu modern harus disurvei dan tulis esai-esainya, agar para sarjana muslim mampu menguasai setiap disiplin ilmu.
3. Penguasaan terhadap khazanah Islam, khazanah intelektual islam harus dikuasai dengan seksama. Ini perlu sebagai titik awal upaya islamisasi ilmu modern, karena proses islamisasi akan miskin tanpa memperhatikan khazanah warisan intelektual islam tersebut.
4. Penguasaan khazanah ilmiah islam dalam tahap analisis. Untuk dapat memahami kristalisasi wawasan islam, maka karya –karya khazanah islam harus dianalisis dengan latar belakang historis yang jelas.
5. Penentuan relefansi Islam yang khas terhadap disiplin-disiplin ilmu. Relevansi ini menurut al-Faruqi ditetapkan dengan tiga persoalan yang harus dijawab, yaitu pertama; apa yang telah disumbangkan islam mulai dari dari al-Qur'an hingga kaum modernis saat ini kepada seluruh persoalan yang dikaji dalam disiplin-disiplin ilmu modern?, kedua; seberapa besar sumbangan Islam jika dibandingkan dengan ilmu-ilmu Barat?, ketiga; jika ada bidang-bidang masalah di luar jangkauan khazanah Islam, kearah manakah umat Islam harus mengisi kekurangan yang dicapai oleh ilmu-ilmu modern Barat itu?.
6. Penilaian kritis terhadap keilmuan modern. Jika relevansi Islam dengan ilmu-ilmu modern ditentukan, maka ia harus dinilai dan dianalisis dari sudut pandang Islam. Penilaian kritis terhadap khazanah Islam. Sasaran kritik disini adalah interpretasi intelektual muslim mengenai nash al-Qur'an dan as-Sunnah dan semua karya-karyanya harus dianalisis relevansinya dengan masa kini.
7. Survai permasalahan yang dihadapi oleh umat Islam. Permasalahan yang disurvaei mencakup seluruh aspek, yaitu aspek sosial, politik, ekonomi, budaya intelektual, moral spiritual.
8. Survei permasalahan yang dihadapi manusia. Studi yang lebih fokuskan kepada seluruh umat manusia secara umum.
9. Analisis kreatif dan sintesis.disini para sarjana muslim harus sudah siap untuk memadukan khazanah islam dengan disiplin ilmu modern dan mendobrak kemandegan berabad-abad. Khazanah pemikiran Islam harus sinambung dengan hasil ilmu modern dan harus menggerakkan tapal batas ilmu pengetahuan kehorison yang lebih luas dari apa yang telah dicapai disiplin ilmu modern.
10. Menyusun kembali disiplin ilmu modern ke dalam kerangka Islam. Kesinambungan antara khazanah islam dengan disiplin ilmu modern telah tercapai, buku-buku teks perguruan tinggi harus ditulis untuk menyusun disiplin ilmu modern dalam cetakan Islam.
11. Menyebarkan ilmu-ilmu Islam yang telah diislamisasikan. Karya-karya intelektual yang dihasilkan dari proses di atas, kemudian disebarkan ke seluruh masyarakat untukk memperkaya umat Islam di dunia.
12. Rencana sistematis dan langkah-langkah islamisasi ilmu pengetahuan al-faruqi diatas adalah merupakan usaha pembebasan ilmu pengetahuan dari asumsi Barat, kemudian digantikannya dengan pandangan Islam, dengan menuangkan kembali disiplin ilmu Barat kedalam kerangka islam.
Jika dipahami, gagasan awal islamisasi ilmu pengetahuan rupanya lebih melihat pemikiran dan pandangan non muslim terutama ilmuwan barat sebagai ancaman yang sangat dominan, dan umat Islam harus berlindung menyelamatkan identitas dan otentitas ajaran agamanya. Karena itu, ia kecenderung menggali teks dalam rangka mengendalian perubahan sosial dan perlu merumuskan ukuran-ukuran normatif di bidang sains agar ditemukan corak yang lebih "khas Islami".
Islamisasi pengetahuan berarti mengislamkan atau melakukan penyucian terhadap sains produk barat yang selama ini dikembangkan dan dijadikan acuan dalam wacana pengembangan sistem pendidikan islam agar diperoleh sains yang bercorak "khas Islami". Menurut Faisal, Sains yang islami harus meliputi iman, kebaikan dan keadilan manusia, baik sebagai individu maupun sebagai sosial. Artinya , sains yang berdasarkan keimanan dengan tujuan kemaslahatan manusia.
Islamisasi ilmu pengetahuan, mempunyai tujuan mewujudkan kemajuan peradaban yang islami dan masing-masing juga tidak menghendaki terpuruknya kondisi umat islam ditengah-tengah akselerasi perkembangan kemajuan IPTEK. Dengan usaha gerakan islamisasi ilmu pengetahuan ini diharapkan problem dikotomi keilmuan antara ilmu agama dan ilmu modern dapat dipadukan dan dapat diberikan secara integral dalam proses pendidikan.
Kemudian gagasan tersebut dijadikan lima landasan objek rencana kerja Islamisasi ilmu pengetahuan, yaitu:
1. Penguasaan disiplin-disiplin ilmu pengetahuan modern.
2. Penguasaan terhadap khazanah atau warisan keilmuan Islam.
3. Penerapan ajaran-ajaran tertentu dalam Islam yang relevan ke setiap wilayah ilmu pengetahuan modern.
4. Mencari sintesa kreatif antara khazanah atau tradisi Islam dengan ilmu pengetahuan modern.
5. Memberikan arah bagi pemikiran Islam pada jalur yang memandu pemikiran tersebut ke arah pemenuhan kehendak Ilahiyah. Dan juga dapat digunakan alat bantu lain guna mempercepat islamisasi ilmu pengetahuan adalah dengan mengadakan konferensi dan seminar-seminar serta melalui lokakarya untuk pembinaan intelektual.
Sementara Al-Attas menguraikan bahwa semua ilmu pengetahuan masa kini, secara keseluruhan dibangun, ditafsirkan dan diproyeksikan melalui pandangan dunia, visi intelektual dan persepsi psiskologi dari kebudayaan dan peradaban Barat. Oleh karena itu Al-Attas menjelaskan jiwa utama kebudayaan dan peradaban islamisasi ilmu diringkas menjadi lima karakteristik yang saling berhubungan (inter-related characteristics):
1. Mengandalkan kekuatan akal semata untuk membimbing manusia mengarungi kehidupan.
2. Mengikuti dengan setia validitas pandangan dualistis mengenai realitas dan kebenaran.
3. Membenarkan aspek temporal untuk yang memproyeksi sesuatu pandangan dunia sekuler.
4. Pembelaan terhadap doktrin humanisme.
5. Peniruan terhadap drama dan tragedi yang dianggap sebagai realitas universal dalam kehidupan spritual, atau transedental, atau kehiudpan batin manusia, yaitu dengan menjadikan drama atau tragedi sebagai elemen yang riil dan dominan dalam jati diri dan eksistensi manusia .
Oleh karena itu, Islam harus menjadi acuan yang menentukan dalam prinsip utama setiap displin ilmu untuk setiap usaha dan perbuatan manusia. Ada empat poin yang harus diperhatikan, seperti:
1. Prinsip-prinsip utama Islam sebagai intisari peradaban Islam
2. Pencapain sejarah kebudayaan Islam sebagai manifestasi ruang dan waktu dari prinsip-prinsip utama Islam
3. Bagaimaan kebudayaan Islam dibandingkan dan dibedakan dengan kebudayaan lain dari sudut manifestasi dan intisari,
4. Bagaimaan kebudayaan Islam menjadi pilihan yang paling bermamfaat berkaitan dengan masalah-masalah pokok Islam dan non Islam di dunia saat ini.
Faktor lain selaras dengan pandangan di atas adalah masih menduanya sistem pendidikan . Pertama, sistem pendidikan “modern” dan kedua, sistem pendidikan “Islam”. Dualisme pendidikan ini melambangkan kejatuhan umat Islam. Hal ini perlu diatasi, jika tidak sistem dualisme tersebut akan tetap menjadi penghalang setiap usaha rekontruksi peradaban Islam .
C. Kedudukan Ilmu Pengetahuan
Kedudukan ilmu pengetahuan dalam Islam sangat sentral. Vitalitas dan keutamaan ilmu terungkap dalam penghormatan dan kehormatan yang diberikan kepada para ilmuwan serta tersirat dalam wahyu pertama yang diterima Rasulullah saw, berupa kunci ilmu yakni membaca. Tercemin dalam ajakan untuk mengikuti hanya kepada orang yang berakal. Tersurat dalam peringatan bahwa ketiadaan ilmu akan menyesatkan serta dengan tegas dinyatakan bahwa menuntut ilmu itu wajib dan berlaku selama manusia masih hidup (long life education concept). Hal ini menunjukkan bahwa konsep pembelajaran sebagai suatu proses pembentukan dan perbaikan diri secara dinamis dan kontinyu merupakan acuan yang dikehendaki dalam Islam. Dengan system pendidikan seumur hidup, maka akan lahir Good citizen ( warga Negara yang baik) yang memiliki kepribadian utuh.
Realita berbicara, Al-Qur'an sebagai kitab panduan umat manusia memuat ratusan ayat yang mengungkap tentang ilmu,mengajak manusia untuk berpikir dan melakukan penalaran ( mengamati, memperhatikan, memikirkan, dan menyelidiki dengan seksama), serta memberikan penghormatan orang-orang yang suka menggunakan akal pikirannya. Ini merupakan bukti otentik yang tak dapat diragukan lagi akan pentingnya kedudukan ilmu dalam Islam.
Selain itu, Al-Qur'an tidak bertentangan dan tidak akan berseberangan dengan hakikat ilmu pengetahuan. Akal manusia akan selalu didorong oleh Al-Qur'an untuk mendalami ilmu pengetahuan. Dengan demikian , kedudukan ilmu pengetahuan dan agama dalam prespektif Islam bersifat integral, bukan dikotomis.
Dari kolaborasi antara ilmu pengetahuan dan agama, diharapkan selain manusiia mampu membedakan fakta ilmiah dengan teori ilmiah, juga yang terpenting mampu menemukan bagaimana konsep nilai, teori, atau paradigma itu dalam prespektif Al-Qur'an.

D. Sumber Ilmu Pengetahuan
Berbicara mengenai sumber ilmu penegetahuan, mau tidak mau kita akan bersentuhan dengan apa yang disebut epistemology. Istilah epistimologi ini berasal dari bahasa Yunani: episteme yang berarti Knowledge atau pengetahuan. Logy berarti "Theory”, oleh sebab itu epistimologi diartikan "teori pengetahuan" atau "Filsafat ilmu". Pengkajian mengenai sumber-sumber ilmu pengetahuan merupakan salah satu bagian dari tiga persoalan pokok dalam filsafat ilmu.
Ada empat sumber yang ditunjukkan Al-Qur'an untuk memperoleh pengetahuan bagi manusia, antara lain:
1. Al-Qur'an dan As-Sunnah, keduanya merupakan sumber pertama ilmu pengetahuan. Al-Qur'an berkali-kali mengingatkan manusia untuk memikirkan ayat-ayatnya dan mengambil pelajaran darinya, serta mengingatkan manusia untuk menjadikan Rasul sebagai suri tauladan. Tentang Assunnah seorang muslim bukan saja mengambil apa yang diperintahkannya dan meninggalkan apa yang dilarangnya. Seorang mukmin tidak mempunyai pilihan lain selain mengikuti putusan Allah dan Rasul-Nya, maka diharuskan mengambil pelajaran dari Sunnah Rasul-Nya. Al-Qur'an merupakan kitab petunjuk bagi kemajuan manusia, dan mencakup apa saja yang diperlukan manusia dalam wilayah iman dan amal. Namun demikian, tidak memandang Al-Qur'an sebagai ensiklopedi ilmu pengetahuan, dan juga tidak meyakini kebenaran mencocokan Al-Qur'an dengan teori-teori ilmu pengetahuan yang berubah-ubah.
2. Alam semesta, al-Qur'an menyuruh manusia memikirkan keajaiban –keajaiban ciptaan Allah, penciptaan bumi dan lautan, langit, tumbuh-tumbuhan serta yang lainnya. Al-Qur'an menunjukkan kepada manusia mengenai alam semesta dengan beragam bentuk dan jenis benda untuk diteliti, yaitu meteri yang mendasari penciptaan, proses penciptaan sendiri, proses perubahan fenomena alam, juga hubungan manusia dengan alam.
3. Manusia adalah sumber ketiga ilmu, "Hendaklah manusia memperhatikan dari apa ia diciptakan". Ungkapan "dari apa ia diciptakan" mengacu kepada fisiologi dan psikologii manusia sekaligus. Karena itu, didalam Al-Qur'an, disamping ayat-ayat al-Qur'an melukiskan penciptaan manusia secara biologis, juga banyak ayat yang melukiskan watak manusia sebagai individu, seperti tamak, munafik dan prilakunya sebagai anggota masyarakat. Dari studi tentang manusia ini banyak melahirakan sebagai disiplin keilmuan, antara lain: ekonomi, politik, pemerintahan, manajemen, pendidikan, hokum, seni, etika dan lain-lain.
4. Sejarah umat manusia, banyak dari sisi kehidupan merupakan kelanjutan dari produk sejarah. Sejarah dapat diartikan sebagai kejadian, fakta, cerita, suatu kejadian dan sebagai ilmu pengetahuan yang mempelajari fakta dan cerita sejarah kejadian manusia dari masa lampau sampai masa sekarang, hingga masa depan. Meskipun al-Qur'an bukan buku sejarah, akan tetapi di dalamna termuat hukum sejarah, hukum Allah tentang sejarah kemanusiaan.
E. Karakteristik Ilmu Pengetahuan dalam Perspektif Islam
Ilmu pengetahuan dalam pandangan Islam tidak bertolak belakang secara menyeluruh dengan ilmu pengetahuan Barat. Ada segi-segi tertentu yang merupakan titik persamaan dan perbedaannya. Titik-titik persamaan antara keduanya itu menunjukkan, bahwa keberadaannya diterima secara universal. Misalnya, indera diakui oleh islam sebagai salah satu media mendapatkan pengetahuan. Ihwan al-Shafa menegaskan, bahwa sesungguhnya seluruh pengetahuan diusahakan, sedangkan dasar usahanya itu adalah penginderaan. Sementara itu, objek pemikiran yang ada pada akal bukanlah sesuatu tanpa ada lambing-lambang yang dapat diindera. Namun, dalam keadaan kemampuan manusia untuk mengumpulkan fakta terbatas, disamping pancaindera dapat keliru dalam melakukan pengamatan, maka kebenaran ilmiah pun selalu dapat salah atau keliru. Bersamaan dengan fakta itu fakta atau data pun tidak selamanya menampakkan diri sebagaiman ada sebenarnya.
Demikian pula yang terjadi pada akal manusia. Islam mengakui akal manusia sebagai salah satu sumber atau sarana untuk mendapatkan pengetahuan. Tetapi sebagaimana indera, akal juga memiliki keterbatasan-keterbatasan, sehingga menumbuhkan bantuan. Jadi, indera dan akal diakui sebagai sumber atau sarana untuk memperoleh pengetahuan, tetapi keduanya tidak bisa dimutlakkan. Keduanya tidak bisa diharapkan mampu memecahkan seluruh persoalan yang dihadapi manusia. Lantaran kondisi keduanya yang serba terbatas itulah akhirnya ilmu dalam Islam dirancang dan dibangun disamping melalui kedua sumber tersebut juga berdasarkan kekuatan spiritual yang bersumber dari Allah melalui wahyu.
1. Bersandar pada kekuatan spiritual
Ilmu pengetahuan dalam Islam menempatkan wahyu (Al-Qur'an dan As-Sunnah) pada posisi dan fungsi yang sanat strategis. Wahyu dapat dan memang semestinya mewarnai ilmu pengetahuan. Wahyu inilah yang menentukan skop kajian ke arah mana sains islam itu harus ditujukan. Pemikir-pemikir islam yang menerima pandangan demikian tentang alam jagat, sebelumnya telah menerima wahyu sebagai sumber pengetahuan tertinggi. Jadi, konsep pemikir-pemikir Islam terhadap wahyu mempunyai akibat-akibat penting terhadap metodologi sains dalam islam. Mereka tidak hanya mengandalkan indera dan akal sebagai sumber sekaligus metode pengetahuan , tetapi mereka berusaha menambah dan mengembangkan pengetahuan dengan metode-metode lainnya yang diperoleh melalui wahyu tersebut.
2. Hubungan yang harmonis antara wahyu dan akal
Karakter dalam Islam yang kedua adalah didasarkan hubungan yang harmonis antara wahyu dan akal. Keduanya tidak dipertentangkan, karena terdapat titik temu. Oleh karana itu, ilmu dalam Islam tidak hanya diformulasikan dan dibangun melalui akal semata, tetapi juga melalui wahyu. Akal berusaha bekerja maksimal untuk menemukan dan mengembangkan ilmu, sedang wahyu datang memberikan bimbingan serta petunjuk yang harus dilalui akal. Maka ilmu dalam Islam memiliki sumber yang lengkap apalagi ketika dibandingkan dengan sains Barat.
3. Interdependensi akal dengan intuisi
Dalam tradisi pemikiran islam, ilmu pengetahuan dibangun adakalanya atas kerjasama pendekatan akal dan intuisi. Akal memiliki keterbatasan-keterbatasan penalaran yang kemudian disempurnakan oleh intuisi yang sifatnya pemberian atau bantuan, sedangkan pemberian dari intuisi masih belum tersusun rapi, sehingga dibutuhkan bantuan nalar untuk mensistematiskan pengetahuan-pengetahuan yang sifatnya pemberian itu. Dengan pengertian lain, akal menumbuhkan intuisi, dan begitu sebaliknya, intuisi menumbuhkan akal. Keduanya saling menumbuhkan bantuan dari pihak lainnya untuk menyempurnakan pengetahuan yang dicapai masing-masing.
4. Memiliki orientasi Teosentris
Bertolak dari suatu pandangan,bahwa ilmu berasal dari Allah dan ini merupakan salah satu perbedaan mendasar anatara ilmu dengan sains, maka implikasinya berbeda sekali dengan sains, ilmu dalam islam memiliki perhatian yang sangat besar kepada Allah. Artinya ilmu tersebut mengembang nilai-nilai ketuhanan, sebagai nilai yang memberikan kesejahteraan dan kedamaian bagi semua makhluk. Sebaliknya, ilmu tersebut tidak boleh menyimpang dari ajaran-ajaran Allah. Jika sains Barat tidak memiliki kepedulian kepada Tuhan, maka ilmu dalam Islam selalu diorientasikan kepada Allah untuk mencapai kebahagian hakiki.
5. Terikat Nilai
Mengingat ilmu dan Islam dipengaruhi dimensi spiritual, wahyu, intuisi dan memiliki orientasi teosentris, konsekuensinya berikutnya sebagai salah satu ciri ilmu tersebut adalah terikat nilai. Ini sangat membedakan dengan sains Barat, karena semangat tradisi ilmiah Barat senantiasa berusaha menegaskan, bahwa ilmu itu netral atau bebas nilai, tidak boleh terikat nilai tertentu. Bahkan menurut pandangan Barat, salah satu syarat keilmiahan adalah bersifat objektif. Sifat objektif ini berarti menyatakan fakta apa adanya dan tidak boleh dipengaruhi oleh fakta apapun.



BAB III
KESIMPULAN

Pengislaman Ilmu atau Islamisasi ilmu, Dalam bahasa Arab Islamisasi ilmu disebut sebagai “Islamiyyat al-Ma’rifat” dan dalam bahasa Inggris disebut sebagai “Islamization of Knowledge”. Islamisasi Ilmu Pengetahuan sebuah gagasan yang timbul sejak dasawarsa 1970-an. Kata “islami” mengandung dua makna yang kurang lebih berbeda. Pertama, kata Islami menunjukkan suatu periode sejarah, kedua, menunjukkan suatu aktivitas yang mengandung Nilai-nilai Islam.
islamisasi ilmu pengetahuan dimaknai sebagai upaya pengintegrasian disipilin-disiplin ilmu modern dengan khazanah warisan Islam. Langkah pertama dari upaya ini adalah dengan menguasai seluruh disiplin ilmu modern, memahaminya secara menyeluruh, dan mencapai tingkatan tertinggi yang ditawarkannya. Setelah prasyarat ini dipenuhi, tahap berikutnya adalah melakukan eliminasi, mengubah, menginterpretasikan ulang dan mengadaptasikan komponen-komponennya dengan pandangan dunia Islam dan nilai-nilai yang tercakup di dalamnya.
Dalam deskripsi yang lebih jelas, islamisasi ilmu pengetahuan menurut al-Faruqi adalah “upaya mewujudkan prinsip-prinsip Islam dalam metodologinya, strateginya, dan dalam apa yang dikatakan sebagai data-data, problemnya, tujuan-tujuannya dan aspirasi-aspirasinya.”
Kedudukan ilmu pengetahuan dalam Islam sangat sentral. Vitalitas dan keutamaan ilmu terungkap dalam penghormatan dan kehormatan yang diberikan kepada para ilmuwan serta tersirat dalam wahyu pertama yang diterima Rasulullah saw, berupa kunci ilmu yakni membaca.
Ada empat sumber yang ditunjukkan Al-Qur'an untuk memperoleh pengetahuan bagi manusia, antara lain: Al-Qur'an dan As-Sunnah, Alam semesta, manusia, dan Sejarah umat manusia.
Karakteristik Ilmu Pengetahuan dalam Perspektif Islam, ada lima: Bersandar pada kekuatan spiritual, Hubungan yang harmonis antara wahyu dan akal, Interdependensi akal dengan intuisi, Memiliki orientasi Teosentris, dan Terikat Nilai.
DAFTAR PUSTAKA
Wad Daud, Wan Mohd Nor ,1988, Filsafat dan praktek pendidikan Islam, Mizan, Bandung.
Zainuddin, Paradigma Pendidikan Terpadu. Uin –Malang Press, 2008.
Norcholis Majid, Islam, Kemodern, dan Keindonesiaan, (Cet. XI; Bandung : Mizan, 1998).
Yusuf Amir Feisal, Reorientasi Pendidikan Islam. Jakarta : Gema Insani Press, 1995.
Muhammad Alim, Pendidikan Agama Islam, PT. Remaja Rosdakarya, Bandung, 2006.
Hadari Nawawi, Pendidikan Dalam Islam, (Surabaya: Al-Ikhlas, 1993).
Mujamil Qomar, Epistemologi Pendidikan Islam. Erlangga , Jakarta, 2002.
http://www.hidayatullah.com/opini/pemikiran/9747-tiga-fase-islamisasi-ilmu-pengetahuan-kontemporer.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar