Tampilkan postingan dengan label feature-feature. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label feature-feature. Tampilkan semua postingan

Rabu, 29 Desember 2010

feature:JANGAN FRUSTRASI BERANTAS KORUPSI!!!


JANGAN FRUSTRASI BERANTAS KORUPSI!!!
Karya Dodi Mawardi – durasi 15 menit.

PENGANTAR (LEAD):
Sungguh ironis bila negara sebesar dan sekaya Indonesia/ justru lebih dikenal sebagai jagoan korupsi/ ketimbang sebagai jagoan berprestasi// lihat saja data dari berbagai lembaga survey/ yang selalu menempatkan Indonesia di urutan papan atas negara paling korup// Negara kaya tapi korup dan rakyatnya miskin// Meski kondisinya sudah sangat parah/ masih ada orang yang tetap bersemangat untuk memerangi korupsi// Mereka tidak mau/ anak cucu kelak juga ikut terbenam dalam budaya korupsi///
Selengkapnya kita simak hasil karya Dodi Mawardi////
MUSIK: LAGU “RAYUAN PULAU KELAPA” – INSTRUMENTAL (FADE IN – UNDER)
VO:
BEGITU INDAHNYA INDONESIA / YANG TERGAMBAR DALAM LAGU RAYUAN PULAU KELAPA – KARYA ISMAIL MARZUKI // SIMAK SAJA LIRIKNYA //
INSERT: LIRIK LAGU RAYUAN PULAU KELAPA DALAM BENTUK PUISI
MUSIK: LAGU RAYUAN PULAU KELAPA (FADE OUT)
VO:
NAMUN KESAN MENYEJUKKAN HATI ITU / SIRNA TANPA BEKAS BILA MELIHAT KONDISI INDONESIA SAAT INI // EKONOMI TERPURUK / KEMISKINAN KIAN PARAH DAN KEJAHATAN MERAJALELA// MORALPUN SEMAKIN BEJAT // ANTARA LAIN DIBUKTIKAN OLEH MASIHNYA BANGSA SEBAGAI NEGERA PALING KORUP DI DUNIA //
MUSIK: LAGU SEDIH INSTRUMENTAL (FADE IN – UNDER)
VO:
SEMUA SEKTOR SUDAH TERCEMAR BUDAYA KORUP // BAHKAN DUA LEMBAGA YANG SEHARUSNYA MENJADI TELADAN / JUGA MAIN PEPET UANG NEGARA // YA… DEPARTEMEN AGAMA DAN DEPARTEMEN PENDIDIKAN / JUSTRU MENJADI DUA LAHAN UTAMA KORUPSI //
MUSIK: LAGU SEDIH (FADE OUT)
VO:
KONDISI BANGSA YANG CARUT MARUT INI / MENYEDIHKAN BANYAK ORANG // MESKI SEBAGIAN LAINNYA CUEK SAJA / DAN BAHKAN MENAMBAH CARUT MARUTNYA KEADAAN //
PENYANYI IKANG FAWZI / TERMASUK SALAH SATU YANG PERDULI TERHADAP BOBROKNYA MORAL BANGSA INI // SEBUAH LAGU DIA CIPTAKAN / KHUSUS UNTUK MENENTANG BUDAYA KORUPSI //
MUSIK: LAGU “PREMAN BERDASI” (FADE IN – UNDER)
INSERT IKANG FAWUZI 1:
Assalamualaikum wrb, saya ikang fawzi, senang sekali bisa sharing ya. Berdasarkan dari kekhawatiran bersama khusus untuk korupsi indonesia menjadi negara terkorpu ke 2 di Asia dan kelima di dunia, saingannya ya negara-negara seperti itu. Intinya kita sudah berada pada kondisi paling dasar paling bottom yang sangat memalukan, sbg bangsa yang kaya, kaya budaya, moralnya tinggi dan agamis, tapi outputnya sangat memalukan
VO:
SELAIN BERPROFESI SEBAGAI PENYANYI/ IKANG FAWZI JUGA BERKIPRAH DI DUNIA BISNIS // SEBAGAI KEPALA KELUARGA / YANG BERTANGGUNG JAWAB TERHADAP ISTRI DAN ANAKNYA / IKANG SANGAT KAWATIR ATAS MASA DEPAN MEREKA//
INSERT IKANG FAWZI 2:
Kekahwatiran ini sangat mendasar karean saya tidak mau anak saya menjadi malu dan bahkan mungkin kalau kita biarkan mereka akan lebih jelek lagi dibanding sekarang. Dan saya tidak mau anak saya tidak mempunyai harga diri. Generasi mereka harus more better than me, itulah gunanya gue beragama, hidup, untuk menyediakn mereka better place sama better living.
VO:
IKANG FAWZI SADAR BETUL/ UPAYA UNTUK MEMBERANTAS KORUPSI / SANGAT BERAT / KARENA BERHADAPAN DENGAN KEKUATAN YANG DASYAT // TAPI / IKANG TIDAK PATAH SEMANGAT / GERAKAN MORAL DIGELORAKANNYA MELALUI LAGU // DIA YAKIN / PARA KORUPTOR JUGA MANUSIA //
INSERT IKANG FAWZI 3:
Saya yakin, siapapun manusia itu bukan ANJING yang tidak malu korupsi. Tapi kalau dia masih manusia pasti hati nuraninya juga malu korupsi dan cenderung untuk tdk merugikan orang lain. Jadi harapan saya sih, yang ditimpukin itu bukan hanya kantor playboy tapi juga rumah para koruptor, maksud saya ya semangatnya harus seperti itu. Benci terhadap pelaku korupsi. Tapi ini harus dikerjasamakan berantai pada semua pihak. Saya kira kalau ada perlakuan yang luar biasa, seperti revolusi atau apa, saya yakin korupsi bisa diberantas. Sekarang ini para koruptor itu tertawa-tawa saja.
MUSIK: LAGU “PREMAN BERDASI” (FADE IN – UNDER)
INSERT IKANG FAWZI 4:
Memang kondisi itu sangat menyedihkan sekali. Tapi tetap selama kita hidup harus jadi agent of change. Kalau tidak, ya tidak bisa masuk surga, ngapain aja hanya menangis,mengeluh, do nothing but complain. Saya bukan manusia seperti itu. Dan saya kira banyak orang seperti kita ini, banyak…
Dia pikir dirinya sakti seakan tak bisa mati, wajahnya masih nyengir di tv, awas PREMAN BERDASI…
MUSIK: LAGU PREMAN BERDASI (FADE OUT)
VO:
TERNYATA / SEMANGAT IKANG FAWZI TERLIHAT JUGA DI DITJEN BEA CUKAI // LEMBAGA YANG SELAMA INI DIKENAL SEBAGAI SARANG KORUPSI // BETULKAH DEMIKIAN?
SFX: SMASH
VO:
SEORANG PEGAWAI BEA CUKAI MENGAKUI / LEMBAGANYA MEMANG TERKENAL SANGAT KORUP SEJAK DULU KALA //
INSERT PEGAWAI BEA CUKAI 1:
Saat ini saya sedang berdinas di salah satu bagian di ditjen bea cukai. Dan perlu diketahui sejak dulu kala yang namanya ditjen bea cukai bukan hanya di idnoensia tapi juga di negara lain, selalu berkaitan dengan keuangan negara yang nilainya sangat besar. Dilihat dari perilaku orang-orangnya, dari nilai uangnya, tentu banyak permainan, banyak kegiatan yang bisa menambah penghasilan buat petugas. Image2 ini jelas dan dibandingkan dengan lingkungannya, memang terlihat mencolok. Sehingga banyak asumsi bekerja di bea cukai suka menggeruk uang negara, sehingga jelas image yang melekat adalah image yang hitam .
VO:
ANDA SENDIRI BAGAIMANA?
Kalau buat saya pandangan semacam itu tidak masalah karena itu menjadi tantangan buat kita untuk mengikuti pendapat umum itu atau tidak. Ketika kita tidak setuju dengan pendapat umum otomotis tidak akan sehitam pandangan umum, atau paling tidak terlalu dalam ikut salah seperti selama ini yang menjadi pendapat umum itu.
VO:
DARI SOSOKNYA / PEGAWAI BEA CUKAI YANG SATU INI / BOLEHLAH DIPERCAYA // TENGOK SAJA RUMAH TIPE 45-NYA / TERLIHAT SEDERHANA// TIDAK ADA SOFA MEWAH DI SANA… // TIDAK ADA JUGA PERANGKAT ELEKTRONIK MAHAL //
SFX: SUARA AIR KOLAM DI RUMAH PEGAWAI BEA CUKAI (FADE IN – UNDER)
VO:
MEMANG ADA KOLAM IKAN DI HALAMAN RUMAHNYA //
SFX: SUARA AIR KOLAM (FADE IN - UNDER)
VO:
NAMUN / JAUH DARI KESAN MEWAH / KARENA KOLAMNYA HANYA SELUAS SETENGAH LAPANGAN TENIS MEJA //
SFX: SUARA AIR KOLAM (FADE UNDER – OUT)
VO:
PEGAWAI BEA CUKAI ITU BERCERITA TENTANG UPAYA PERBAIKAN YANG DILAKUKAN LEMBAGANYA // NAMUN SELALU MEMBENTUR TEMBOK LAIN / YANG PUNYA KEKUATAN BESAR // MEREKA MEMBEKINGI AKSI TIDAK TERPUJI / SEPERTI PENYELUNDUPAN //
INSERT PEGAWAI BEA CUKAI 2:
Sering ada kejadian kalau kita melakuakn penindakan terhadap importir yang ternyata di belakangnya ada organisasi atau orang berpengaruh, basanya kita mendapat perlakuan balasan dari orang2 beking tersebut. Sehingga seerpt ada penuntutan balas, sehingga intinya kita harus mengakomodir berbagai kepentingan dan walaupun kita bertindak benar justru akan berakibat tidak baik buat institusi bea cukai sendiri.
VO:
MESKI SERING BERUSAHA BERJALAN LURUS / TANTANGAN TERNYATA LEBIH BESAR YANG MESTI DIHADAPI// SELAIN HARUS MELAWAN KEKUATAN BESAR LAIN / YANG SUDAH MENJADI RAHASIA UMUM TAPI SULIT DIJAMAH // MASYARAKAT YANG TETAP MEMANDANG BUSUK BEA CUKAI / MEMBUAT BANYAK PEGAWAI SERING MERASA FRUSTRASI //
INSERT PEGAWAI BEA CUKAI 3:
Yang kita lihat masih tetap menyalahkan seakan2 mereka tidak berubah, walapun belum berubah semua. Namun pandang-pandangan ini menimbulkan rasa frustrasi atau tidak nyaman gitu lho… sehingga banyak sekali pegawai yg bicara seperti ini: dari pada kita udah berubah tetap dibilangin masih tetap nerima uang dari importir namun tetap dibicarakan hitam, ya lebih baik kita ambil saja sekalian dari importir itu, toh tidak akan mengubah pandangan masyarakat terhadap kita walupun sudah berubah.
VO:
PERJALANAN MEMANG MASIH PANJANG //
MUSIK: INDONESIA PUSAKA (FADE IN – UNDER)
VO:
NAMUN / HARUSKAH SEMANGAT MENGGANYANG KORUPSI DIBIARKAN PATAH? BAGI ORANG-ORANG SEPERTI IKANG FAWZI / TENTU SAJA SEMANGAT TIDAK BOLEH PADAM // GERAKAN MENENTANG DAN MEMERANGI KORUPSI SEHARUSNYA TETAP ADA / PADA SETIAP MANUSIA INDONESIA / YANG MASIH PUNYA HATI NURANI // MANUSIA YANG MASIH BERPIKIR PANJANG UNTUK ANAK CUCUNYA KELAK // DAN BISA MENUTUP MATA DENGAN TENANG //
INSERT PUISI TEKS LAGU INDONESIA PUSAKA
MUSIK: INDONESIA PUSAKA – INSTRUMENTAL (FADE IN – OUT)
SIGN OUT:



feature:BERJUALAN ROKOK HANYA UNTUK ANAK ISTRI


BERJUALAN ROKOK HANYA UNTUK ANAK ISTRI

Semangat pantang menyerah, mungkin kata-kata itu cocok untuk Suroto yang menjajakan rokok demi menghidupi anak dan istrinya. Suroto (37), bapak dari dua anak ini salah satu pendual rokok di jalan Malioboro. Suroto berasal dari Solo. Dia memilih berjualan di Jogja karena menurutnya di Jogja keuntungan yang dia dapatkan lebih banyak sehingga cukup untuk menghidupi 2 anaknya yang saat ini masih sekolah TK dan SD.
Awalnya, suroto bingung mencari bidang usaha yang ia tekuni. Pilihannya pun jatuh pada rokok, karena saat itu ia menerima ajakan temannya yang sudah lebih lama menggeluti di bidang tersebut. Walaupun penghasilan yang ia dapatkan dari menjual rokok tidak terlalu banyak ia yakin dapat menghidupi anak dan istrinya yang menanti. Suroto mulai bekerja sejak pukul 09.00 s/d sore pulul 16.00 ia memperoleh penghasilan sebanyak Rp. 25.000,- akan tetapi kadang ia berjualan sampai malam, keuntungan yang ia dapatkan bila berjualan sampai malam bisa mencapai Rp. 50.000,-. Suroto harus pintar-pintar membagi penghasilan, saat ditanya apakah uang segitu cukup pak ? ya besar pasak dari pada tiang katanya sambil membasuh mukanyanya yang kusam” Dia juga mengatakan bahwa ia harus pintar-pintar membagi uang karena ia harus menanggung uang makannya sehari-hari, terus biaya untuk kos yang harus ia bayarkan sebanyak Rp. 120.000,- per bulan, belum untuk pulang ke kampung halaman dan memberi nafkah kepada anak istrinya. Mujiono juga salah satu teman sehabitat berjualan rokok suroto menurutnya suroto orangnya baik. Dia mengaku bahwa hubungan mereka sesame penjual rokok sangat terjaga “ Ya sama-sama rekann kerja kalau ada apa-apa ya di Bantu, ujar Mujiono dengan senyum simpulnya. Suroto mengaku sangat senang berjualan di Malioboro sangat senang selain orangnya ramah-ramah dia juga menemukan pengalaman yang berwarna-warni dan walaupun tidak di kampungnya sendiri ia dapat bermasyarakat dengan baik, sehiingga ia tetap semangat mencari nafkah demi menghidupi anak istrinya.


feature:Ekayanti Korban Konflik Riang dengan Rumah Barunya


Ekayanti Korban Konflik Riang dengan Rumah Barunya


Setelah sekian lama menunggu dan hidup di sebuah rumah reot, lebih tepat disebut gubuk kecil yang dibangun dari bekas kayu rumah yang dibakar ketika konflik dulu. Idaman Ekayanti (16) beserta delapan adiknya yang telah Yatim ini untuk mendapatkan rumah layak huni dari pemerintah akhirnya tercapai juga. Menurut Cerita gadis Almarhum Abubakar ini, mereka selama ini terpaksa hidup dan bernaung dalam gubuk kecil yang dibangun dari bekas kayu rumah mereka yang dibakar tahun 2003 lalu, ketika itu bukan keluarga Eka panggilan untuk perempuan berkulit gelap tapi manis ini, tapi 24 rumah milik warga Riwuek Kecamatan Pidie rata dengan tanah ketika kejadian kontak tembak pihak yang bertikai, “ sejak saat intu kami sering berpindah-pindah dan akhirnya kami bangun rumah untuk bernaung meski harus berdesak-desakan karena ukuran kecil”, ungkap Gadis yang kini mengenyam pendidikan di bangku SMA ini.
“ rasanya kami bagaikan mimpi bisa memperoleh rumah sebagus ini, karena kami memang sudah pasrah untuk menerima kenyataan, meski ada sedikit timbul tanda tanya sebelumnya, kalau untuk korban Tsunami ada bantuan rumah, pakah kami korban konflik tidak ada perhatian, setelah kami dipanggil untuk mengambil dana bantuan rumah yang disalurkan Badan Re-Integrasi Aceh (BRA) lansung kerekening kami, saya sangat senang dan bahagia sekali”, ujar gadis yang selepas pulang sekolah harus bekerja membantu ibunya menafkahi keluarganya. Eka yanti merupakan anak ketiga hasil pernikahan Rafasah (39) dengan almarhum Abubakar yang meninggal setahun lalu karena penyakit paru-paru yang dideritanya, karena hidup serba kekurangan sehingga kerluarga tidak sanggup  membiayai pengobatan ke rumah sakit. Sejak ayah meninggal penderitaan keluarga ini kian bertambah, selain tidak memiliki rumah, Rafasah ibunya harus mengmbil alih kendali selain sebagai ibu rumah tangga, perempuan ini juga harus banting tulang menafkahi keluarganya.  Untuk pekerjaan apapun mau dikerjakan asalkan halal, kadang kala dia pergi pagi pulang sore karena pergi ke kampong-kampung lain untuk bekerja sebagai upahan di sawah orang, dia memang tidak ada kepandaian lain yang bisa diandalkan selain jadi upahan disawah dan di tambak.
 Bahkan ketika Harian Aceh bertandan kekediamannya Sabtu (15/3) Ibu Rafasah tidak ada dirumah, “ mak hana diromoh, ka geujak tueng upah angkot pade (mak tida ada dirumah, sedang bekerja angkut padi orang)”, kata Eka yanti yang ketiak itu sedang memberikan makan adiknya  paling bungsu yang masih berumur tiga tahun. Memang rumah yang dibangun warga setempat dengan dana bantuan BRA untuk korban konflik dengan nilai Rp.35 juta per rumah tergolong bagus dan bermutu, meski disana-sini masih ada kekurangan seperti tidak diplaster disebagiannya dan dindingnya tidak tertutup habis, namun mereka mengaku puas dan akan menambah dengan dana lain yang mereka tabung selama ini.“Kami sangat senang bisa dapat bantuan dan sudah bisa bernaung di rumah bantuan ini, meski kami harus tidur beralaskan tikar tanpa ada tempat tidur dan menyimpan pakaian di kardus karena tidak ada lemari setelah ikuit terbakar bersama rumah” , ujar Eka dengan nada memelas. Bahkan dari bantuan rumah mereka ikut membantu pembangunan Meunasah setempat yang sedang dibangun dengan cara menyumbang keramik berdasarkan pengakuan mereka, sumbangan itu diberikan suka rela tanpa paksaan dari panitia meunasah. Rumah korban konflik di Desa itu berjumlah 24 unit, yang terbakar sekaligus pada tanggal 27 Desember 2003, semuanya sekarang sudah siap dibangun sendiri oleh pemiliknya dengan bantuan dana BRA, sehingga Ekayanti dan korban lainnya kini tidak lagi mengeluh tentang rumah, hanya saja bila ada pemerintah juga bisa membantu modal usaha bagi mereka agar bisa kembali membuka usaha mereka yang umunnya sebagai pengayam tikar dan pembuat kue.

feature:Hasan Tiro di Mata Keluarganya, Ketika Sang Adek Meusyen Keu Cut Bang


Hasan Tiro di Mata Keluarganya, Ketika Sang Adek Meusyen Keu Cut Bang
Oleh: zamahsar
Di belokan jalan gampong kecil itu, kira-kira 100 meter sebelum rumah yang kami tuju, terdapat sebuah rumah kosong yang di depannya terburai gundukan karung pasir. Sebelum damai, tempat itu dijadikan kubu pertahanan pasukan TNI, menghadapi serangan yang tak pernah datang. Rumah itu kini tidak berpenghuni lagi, dan penduduk sekitar jarang mendekatinya.
Sekira sepuluh meter sebelum sampai rumah yang dituju, kami, rombongan Harian Aceh harus melewati sebuah jembatan gantung, disebut jembatan gantung Mali. Panjang jembatan itu sekitar 20 meter dan tingginya 10 meter. Di bawahnya seruas sungai yang airnya bening mengalir antara bebatuan.
Sebuah rumah panggung (rumoh Aceh) tampak. Rumah tua berbahan kayu tersebut, salah satu bangunan bersejarah di gampong lembah itu, sebuah kampung kecil yang disebut Tanjong Bungong, Mali Cot, Kecamatan Sakti, Pidie. Rumah tua itu tampak mencekam dan sepi. Tak ada hingar-bingar suara kendaraan, hanya kicauan burung di antara dedaunan melinjau dan kelapa. Bahkan, kampong di lembah hijau dataran tepi gunung itu tidak tampak sedang merayakan Idul fitri sebagaimana kampong lain di tepi jalan raya.
Ketika Harian Aceh menyapa di tangga rumah Aceh itu, tidak ada jawaban, rumah itu tak berpenghuni. Namun, setelah diperhatikan, terdengarlah suara hiruk-pikuk di belakang rumah. Lalu rombongan Harian Aceh pun ke belakang rumah itu, mencari tahu apa yang terjadi.
Setiba di belakang rumah yang terletak di pinggir sungai Krueng Tiro itu, tampak puluhan lelaki tua dan muda, sedang membersihkan kebun yang dipenuhi semak belukar. Di tepi kebun itu ada dua buah balai (balee) pengajian yang sudah lapuk dimakan usia, dan lama tidak terhiraukan. Sarang laba-laba dan lumut menghiasi dinding papannya.
Salah seorang lelaki, menyambut rombongan Harian Aceh dengan senyum bersahabat seraya menyapa akrab, ‘ada yang bisa dibantu?’ Lalu,  rombongan Harian Aceh pun memperkenalkan diri. Ternyata, lelaki yang menyambut ramah tadi adalah tokoh masyarakat setempat, namanya Murtadha, anak kandung Tgk Nyak Hj Aisyah Binti Muhammad, adik kandung Hasan Tiro yang terkenal itu, pemilik rumah yang rombongan Harian Aceh tuju.
Rombongan Harian Aceh memberitahukan maksud bertandang, ingin bertemu adik kandung Wali Negara Aceh DR Tgk Muhammad Hasan Bin Muhammad Di Tiro, tokoh yang memproklamirkan Aceh 1976 di Gunung Halimun Tiro, Pidie, yang konon tanggal 11 nanti akan sawue gampong. Begitu mendengar maksud dan tujuan rombongan Harian Aceh, sambutan ramah tadi segera lebih ramah, bak menerima saudara kandung yang pulang dari kampong jauh.
Cut Bang Murtadha, panggilan akrab orang kampong itu kepada keponakan Hasan Tiro tersebut, segera memperkenalkan ibunda tercintanya.
Siti Aisyah, kini berusia 80 tahun. Ia adik kandung seayah dengan Hasan Tiro. Siti Aisyah, adalah satu-satunya suadara Hasan Tiro yang masih tinggal. Siti Aisyah satu-satunya pewaris yang menghuni rumah berkumpulnya keluarga besar Tgk Muhammad. Kata Murthada, rumah bersejarah tempat tinggal Siti Aisyah itu dibangun setelah rumah tua, yang kini masih tampak sisa di depan rumah itu dibakar masa DI/TII sekitar tahun 1953.
Rumah yang sekarang dihuni oleh Siti Ainsyah itu pernah disinggah Tgk Hasan di saat pengubah sejarah Aceh zaman modern itu pulang kampong pada tahun 1970-an lalu. Kini rumah khas Aceh yang tergolong besar itu merupakan tempat Umi Aisyah berteduh bersama tiga anaknya, yaitu Murtadha, 50, Nurhelmi, 45, dan sejumlah cucunya. Suami Nurhelmi bernama Sarong kini bermukim di Swedia dan menurut kabar dia tidak bisa ikut pulang karena dalam keadaan sakit.
Siti Aisyah bercerita panjang lebar tentang kerinduan terhadap abang kandungnya yang sudah lama sekali tidak pernah terlihat raut wajahnya.
Lon Meuchen that keunuek meuruempok teungku abang (saya rindu sekali ingin berjumpa dengan teungku abang—panggilannya untuk Hasan Tiro),” ujar Siti Aisyah yang kini masih mengajar agama untuk penduduk kampong kecil itu.
Lon diungo dari urueng lingka gobnyan kageuwoe u gampoeng, tapi peukeuh ek hana geuwoe bak kamoe. Neu peusan siat bak Tuengku, lon meuchen that,” ungkap perempuan yang kini pendengarannya terganggu namun matanya masih terang, bisa membaca Al Quran dengan jelas.
Siti Aisyah bilang, semua saudaranya kini tiada lagi, sudah berpulang menghadap Sang Pencipta. Yang tinggal cuma ia dan Hasan Tiro, yang disebut Wali Nanggroe Aceh, dan kini bermukim di Swedia. Siti Aisyah adalah saudara seayah dengan Teungkuk Hasan. Saudara Hasan Tiro yang lain adalah Tgk Zainal Abidin Muhammad (Alm), Tgk Nyak Asiah Rayek Muhammad (Alm). 
Di balik kerinduannya yang amat dalam selama puluhan tahun, ternyata Siti Ansyah menyimpan secercah keraguan tentang kepulangan abangnya, Hasan Tiro. Bahkan dia balik bertanya, “Pue kueh jadeh teungku abang woe? (apakah jadi teungku abang pulang?” tanya Siti Aisyah, seraya ditambah anaknya Murtadha, “Saya ingin abuwa benar-benar pulang.”
Siti Aisyah melanjutkan, begitu ia mendengar abangnya (Hasan Tiro) akan pulang, dia ingin sekali melaksanakan upacara ritual di kuburan orang tuanya yang berada di belakang rumah bersejarah itu.
lon teumuek rhah ulee teungku abang bak jerurat ureueng chik kamoe,” tutur perempuan yang meski sudah usia kepala delapan tetapi fisiknya masih kuat, bahkan dia sendiri yang menyajikan minuman kepada rombongan Harian Aceh.
Saat ditanyakan apakah sudah ada pemberitahuan tentang kepulangan wali, menurut dia, sejauh ini belum ada. Mungkin sengaja belum diberitahukan, karena belum ada kepastian pulang. “Tapi saya sudah mendengar dari cerita orang,” jelasnya.
Dulu, lanjut Ainsyah, dia sering berkomunikasi dengan Hasan Tiro lewat telepon. Ketika tiba hari raya pun sering menerima ucapan selamat hari raya langsung dari Teungku Hasan, tetapi selama setahun ini belum ada.
Menurut Murtadha, anak lelaki satu-satunya Siti Aisyah ini, ibunya sering kali menanyakan kabar ayah cek (sebutannya kepada Wali Nanggroe Aceh). Siti Aisyah selalu berdoa agar bisa berjumpa dengan abangnya.
Kepada kami selalu bertanya-tanya, apakah ayah cek masih hidup. Ibu saya ingin melihat wajah abangnya,” kata Murtadah mengulangi kata ibunya.(zamahsari)

Artikel:Pendidikan Anak Tanggung Jawab Siapa?



Ibu adalah tempat pendidikan pertama bagi anak-anak dan rumah adalah sebuah batu bata yang dengannya batu bata serupa terbentuk menjadi bangunan masyarakat. Di dalam rumah yang terbangun di atas pondasi menjaga ketentuan-ketentuan Allah, yang tegak dengan pilar-pilar kecintaan, kasih sayang, sikap itsar (mengutamakan orang lain) dan saling membantu dalam kebajikan dan taqwa, di dalam rumah seperti inilah akan lahir generasi pilihan ummat, anak sholeh dambaan setiap orang tua.
Sebelum seorang anak terdidik di tempat pendidikan dan masyarakat, rumah dan keluargalah yang terlebih dahulu mendidiknya. Seorang anak ibarat peminjam yang dari kedua orang tuanya ia mendapatkan pinjaman prilaku luhur, sebagaimana kedua orang tuanya bertanggung jawab dalam porsi besar dalam penyimpangan prilaku anak. Betapapun besar tanggung jawab ini, namun banyak orang tua yang mengabaikannya dan tidak melaksanakan sebagaimana semestinya, akibatnya mereka menelantarkan anak dan melalaikan pendidikan mereka. Kemudian, bila terlihat penyimpangan pada prilaku anak-anak merekapun berkeluh kesah. Mereka tidak sadar bahwa merekalah sebab pertama bagi penyimpangan tersebut, yaitu akibat mereka melalaikan amanah anak yang Allah berikan kepada mereka.
Allah berfirman :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَخُونُوا اللهَ وَالرَّسُولَ وَتَخُونُوا أَمَانَاتِكُمْ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ
“ Hai orang-orang yang beriman janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanah-amanah yang dipercayakan kepadamu, sedangkan kamu mengetahuinya ” (QS. Al-Anfaal : 27)
Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda : “ Setiap kalian adalah pemimpin dan akan ditanya tentang kepemimpinannya. Seorang suami pemimpin dirumahnya dan akan ditanya tentang kepemimpinannya, dan seorang istri pemimpin di rumah suaminya dan akan ditanya tentang kepemimpinannya”. ( HR. Bukhari daN Muslim dari Abdullah Bin Umar Radiyalallahu ‘Anhu)
Dan dalam riwayat Muslim : “Dan anakmu mempunyai hak atasmu”.
Banyak bentuk-bentuk pelalaian atau kesalahan pendidikan anak yang dilakukan oleh orang tua diantaranya.
Yang pertama : Memasukkan anak ke tempat pendidikan atau sekolah yang di dalanmnya mengajarkan hal-hal yang bertentangan dengan aqidah, tauhid dan terdapat pelanggaran syar’i di dalamnya.
Keimanan,  tauhid serta aqidah adalah perkara yang terpenting yang kita miliki, sangat ironis sekali kalau ada orang tua yang mengorbankan aqidah anaknya hanya dengan tujuan dapat ijazah di sekolah umum misalnya atau bahkan sekolah Kristen atau Hindu hanya karena sekolah itu bagus atau ternama.
Rasululllah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda : “ Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrahnya (Islam), bapaknyalah yang menjadikannya Yahudi atau Nasrani atau Majusi “ (HR. Bukhari dari Abu Hurairah Radiyalallahu ‘Anhu)
Apakah para orang tua tidak takut terhadap suatu hari yang mereka akan dimintai pertanggung jawabkan atas apa yang mereka lakukan, atas amanah anak yang mereka abaikan, atas agama anak yang mereka tidak perdulikan…!!! Lalu setelah itu mereka berharap mempunyai anak yang sholeh ???!!!.
Lihat seorang bapak yang sholeh, mewasiatkan anaknya tentang perkara dien, tentang perkara tauhid tentang perkara aqidah, tentang supaya anaknya berhati – hati dari hal-hal yang membatalkan keimanannya. Sebagaimana yang Allah khabarkan tentang hamba yang sholeh Luqman yang berkata kepada anaknya
وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لا تُشْرِكْ بِاللهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ
“ Dan ( ingatlah ) ketika Luqman berkata kepada anaknya “ Hai anakku  janganlah kamu mempersekitukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan Allah benar-benar kedzaliman yang besar “ (Qs. Luqman :13)
Wahai para orang tua selektiplah dalam memilih tempat pendidikan, jangan engkau masukkan anak-anakmu ketempat pendidikan yang disana terdapat pelanggaran terhadap syariat islam apalagi pelanggaran terhadap aqidah islamiyah.
Yang kedua : Melalaikan pendidikan agama terhadap anak.
Diantara bentuk pelalaian yang sangat besar adalah ketika orangtua melalaikan pendidikan agama anak-anaknya. Perbuatan seperti ini merupakan pelanggaran amanah anak yang paling besar, sebagian orang tua menganggap dirinya sukses ketika anaknya selesai menempuh pendidikan sarjana atau insinyur atau yang sejenisnya. Dia lupa bahwa sukses mendidik anak adalah ketika pendidikkan orang tua menjadi sebab anaknya menjadi anak sholeh.
Rasululllah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda : “ Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan pada seseorang maka Allah pahamkan agama pada orang tersebut” (HR. Bukhari dan Muslim dari Muawiyah Radiyalallahu ‘Anhu)
Dalam hadist lain Rasululllah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda :
“Jika mati seorang manusia, maka terputuslah amalannya kecuali 3 perkara :
  1. 1. Shadaqah Jariyah
  2. 2. Ilmu yang bermanfaat
  3. 3. Anak sholeh yang mendoakan kedua orang tuanya”.
(HR. Muslim)
Yang lebih ironisnya lagi, sudah orang tua melalaikan pendidikan agama anaknya, lalu ketika anaknya Allah kehendaki kebaikkan dengan Allah beri hidayah untuk menuntut ilmu agama diluar sana, untuk mengenal tauhid dan aqidah yang benar, untuk melaksakan sholat berjama’ah, untuk mengenakan hijab, untuk memelihara jengot, untuk berpakaian diatas mata kaki malah orang tua melarangnya atau memarahinya…!!!
Yang ketiga : Memasukan media perusak kedalam rumah
Diantara salah satu bentuk kesalahan dalam mendidik anak bahkan kesalahan yang sangat fatal adalah memasukan media perusak aqidah, akhlaq dan perangai anak, seperti TV, PS majalah seronok dan semisalnya kerumah. Sebagian orangtua beranggapan hal itu dilakukan untuk menyenangkan anak atau supaya anak dirumah tidak kemana-mana. Itulah kalau seseorang jauh dari ilmu agama, sengsara didunia dan diakhirat. Dia menganggap memasukan TV atau media perusak lainnya itu adalah sebagai ungkapan kasih sayang orang tua kepada anaknya, dia tidak sadar apa yang para orang tua lakukan memasukan TV kerumah sebuah perkara yang sangat berbahaya bagi anak, bagi kehidupan dunianya dan akhiratnya. TV adalah perusak aqidah, akhlak, adab, kepribadian seseorang apalagi seorang anak yang masih polos dijejali dengan hal-hal yang merusak sebagaimana yang ditayangkan ditelevisi.
Yang Keempat: Memanjakan anak dan tidak mengajari mereka untuk memikul tanggung jawab.
Diantara kesalahan yang banyak dilakukan orang tua adalah ketika para orang tua memanjakan anaknya, memberikan semua apa yang mereka minta dan inginkan dengan dilatar belakangi karena ingin membuat mereka senang. Pengarahan atau pendidikan seperti ini merupakan sebuah kesalahan, dampak jelek dari pendidikan seperti ini akan terlihat ketika anak sudah besar, seperti sikap lari dari tanggung jawab, cengeng dalam menghadapi problema kehidupan dan dampak buruk lainnya.
Yang kelima : Bersikap keras dan kasar kepada anak .
Sebagian orang tua ada yang menganggap bahwasanya sikap kasar, keras dengan memukul hingga membekas dibadannya misalnya atau membuat anak takut kepada dirinya adalah sebuah pendidikan yang akan menghasilkan anak yang nurut atau akan terjaga secara sebab dari ha-hal yang merusak anak. Justru hal ini akan menjadi sebab anak menjadi tertekan, minder, atau bahkan akan menjadi sebab anak benci terhadap orang tuanya.
Yang keenam :  Kurangnya perhatian orang tua kepada anak atau curahan kasih sayang orang tua kapada anak.
Hal ini diantara sekian hal yang dapat mendorong mereka mencari hal-hal itu diluar rumah. Dengan harapan bisa menemukan orang yang bisa memberikan itu semua.
Dan tidak sedikit ada seorang anak perempuan merelakan menyerahkan kehormatannya hanya karena ingin mencari kasih sayang dari seorang pria, ada juga yang terjerumus kepada kenakalan remaja dan dampak buruk lainnya hanya karena ingin mencari perhatian.
Yang Ketujuh:  Tidak memahami psikologis dan karakter anak-anak
Banyak diantara orang tua yang tidak memahami psikologis atau kejiwaan dan karakter anak-anaknya. Padahal anak-anak mempunyai pembawaan dan karakter yang berbeda-beda. Diantaranya ada yang mudah emosi, atau tersinggung atau  bersikap dingin dan lain-lain. Akan tetapi orang tua tadi berinteraksi dengan anak-anak tersebut dengan pola yang sama, terlepas dari sisi kejiwaan mereka. Hal ini terkadang dapat menyebabkan penyimpangan mereka.
Wahai para orang tua inilah diantara penyimpangan dalam mendidik anak yang tidak sadar mungkin diantara kita ada yang melakukannya. Ingatlah bahwa kita akan ditanya diakhirat kelak
فَوَرَبِّكَ لَنَسْأَلَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ
“ Maka demi Rabbmu kami pasti akan menanyai mereka semua “ (Qs. Al Hijr : 92)
Rasullulah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda : “ Sesungguhnya Allah akan mempertanyakan setiap pemimpin dari apa yang telah di pimpin, apakah menjaga atau menyia-nyiakan “ ( Hadist hasan, diriwayatkan oleh Nasa’i)
Wahai para orang tua apakah kalian tega atau tidak merasakan kasihan terhadap anak – anak kalian kalau anak kalian sengsara didunia dan diakhirat kelak. Bukankah kebahagiaan yang kita inginkan untuk anak-anak kita, lalu apakah artinya kebahagiaan kalau didunia seakan – akan anak kita terlihat bahagia (menurut anggapan mereka) tapi diakhirat sengsara akibat para orang tua tidak memperhatikan pendidikan yang sesuai dengan apa yang diajarkan oleh agama islam, melalaikan pendidikan agama sehingga mereka terjatuh lepada perkara-perkara yang diharamkan Allah dan tidak menunaikan kewajiban-kewajiban yang diwajibkan atas mereka. Pada hakekatnya pun mereka tidak bahagia didunia dan diakhirat mereka terancam mengalami kesengsaraan akibat mereka tidak mengenal syariat ini dan mengamalkanya.

Artikel:DINAMIKA STRUKTURAL PENDIDIKAN DAN KETERPURUKAN ETIKA SOSIAL


DINAMIKA STRUKTURAL PENDIDIKAN
DAN KETERPURUKAN ETIKA SOSIAL
oleh: Rahmat

Abstrak
    This article tries to discuss the riots in some big cities in Indonesia, e.g.  Yogyakarta, Ambon, Jakarta and Bandarlampung. On the obove riots there were  many targets belonging to our social living such as social ethic, moral ethic and cultural ethic. It can be said that there are some social backgrounds underlying those social disasters. One of the social backgrounds is dynamic of structural education that oriented to centralization of education. The are involved in a complicated system and each of them often produces conflicting interest. People tend to utilize potent technology to satisfy human wants and needs.
To avoid more serious environmental problems which can endanger the existence of humanity in Indonesia, we need to change people’s attitudes from  exploitation and dominance to global protection and care. For this purpose, national basic development changes from useful to religius character  is faith one God.

  
Kata Kunci: etika sosial,  konflik sosial, struktur pendidikan
A.    Berbagai Wujud Kegelisahan Kehidupan Bermasyarakat
    Akhir-akhir ini kondisi kehidupan masyarakat  sehari-hari senantiasa diwarnai berbagai  bentuk kekerasan  yang mengacu kepada kerusuhan. Berbagai kerusuhan dan pengrusakan terjadi di beberapa kota besar Indonesia. Keadaan tersebut menimbulkan kekuatiran demi  kekuatiran yang   melanda setiap individu menghadapi kenyataan yang ada. Lebih-lebih dirasa berat menghadapi masa depan yang seolah-olah tiada harapan. Mengapa semua itu dapat terjadi ?    Sederetan peristiwa berikut yang terjadi sekitar tahun 1999 sampai 2003 menjadi bukti yang  menunjukkan kondisi tersebut. Ungkapan yang terdapat dalam Majalah Tempo pada artikel pendidikan menyebutkan "Bila Si Kecil Kecanduan `Permen`.Narkotik dan zat adiktif mulai merambah SD dalam  bentuk  permen, gambar tempel tato, atau pil. Bagaimana menanggulanginya?  Orang tua anak  SD justeru tidak mengetahui kalau anaknya telah kecanduan narkotik. Ternyata penyebabnya antara lain desakan mantan siswa di SD tersebut  yang memaksa agar anak SD menenggak pil `berani`. Akibat  yang  muncul setelah meminum pil tersebut, siswa merasa berani dan ingin berantem, tapi juga merasa ngantuk.
Berita  tentang tindak kekerasan berupa  perampokan  dengan kekerasan terjadi di Yogyakarta. "Dua nasabah Bank BCA di Jalan P. Mangkubumi  Yogya, Senin (30/8) siang menjadi korban perampokan di Jalan Menteri Supeno, Umbulharjo, Yogyakarta. Akibat kejadian itu, Liana (49) dan Tanto Supriyo (49) warga jalan Wijaya Jawa Timur, luka parah dibabat pedang dan terpaksa kehilangan uang tuanai Rp.52 juta dan perhiasan senilai Rp.30 juta."   Peristiwa ini terjadi di siang hari di tengah keramaian yang dilakukan dengan berani dan seolah-oleh tanpa risiko.Berita lain menyebutkan tentang kerusuhan di Ambon terus berlanjut, dua tewas dan 20 terluka. "Pertikaian bernuansa SARA secara sporadis masih terjadi  di sejumlah kawasan di Ambon, Maluku, Rabu pagi hingga malam. Peristiwa tersebut mengakibatkan sedikitnya dua warga sipil meninggal dunia dan 20 lainnya mengalami luka berat dan ringan."  Berita tersebut mengungkapkan adanya pertikaian antar warga  yang bernuansa SARA. Sekelompok orang berhadapan dengan sekelompok orang lain dengan jumlah yang cukup banyak.
    Tindakan perusakan Rumah Sakit Jakarta oleh aparat  keamanan,  merupakan berita lain yang menambah panjangnya jalinan peristiwa yang mengerikan di tanah air  Indonesia.  Perusakan  rumah sakit yang terletak di sebelah Universitas Katolik Atmajaya, juga dekat dengan Jembatan Semanggi, Jakarta itu, terjadi ketika sejumlah  anggota  pasukan keamanan mengejar sejumlah  pengunjuk  rasa yang diperkirakan bersembunyi di RS Jakarta. "Tatkala  aparat  keamanan minta informasi pada  petugas  RS. Jakarta, menurut petugas keamanan, karyawan rumah sakit mengatakan tak ada massa yang bersembunyi di tempat tersebut, Namun beberapa aparat  keamanan melihat, massa itu 'disembunyikan' dengan  menumpang mobil ambulan. Lantaran kesal, sejumlah petugas keamanan melampiaskan amarah mereka pada barang barang yang ada di RS.Jakarta. Akibat perusakan  itu, kegiatan di RS.Jakarta nyaris terhenti,  karena  rusaknya instalasi  sterilisasi  dan ruang  operasi."   Dalam peristiwa ini terjadi tindakan dari pihak aparat keamanan yang seharusnya melindungi dan mengayomi rakyat, tetapi kenyataannya justeru memporak porandakan sarana kepentingan umum. Pengungkapan  peristiwa yang terjadi tersebut terlepas dari benar dan tidaknya tindakan aparat dalam menangani masalah yang ada di lapangan.
    Bentrok di Kebun sawit BNIL. Perkebunan sawit Bangun  Nusa Indah Lampung (BNIL) di Banjaragung, Tulangbawang-250 luar Bandarlampung- bergolak lagi. Seorang warga, Nengah Suwarte  (38), tewas tertembak  dalam bentrokan antara aparat keamanan dengan  sekitar 100 warga setempat. Bentrok  hari Sabtu diduga berkait rasa tak puas atas  sikap Pemda  Tulangbawang dalam menangani kasus tanah perkebunan  BNIL.6 Pada peristiwa ini warga mengklaim terdapat 1.500 ha.  lahan di areal  BNIL, sebagai milik warga. Masih berhubungan dengan peristiwa ini pada tanggal 30 November 1999 yang lalu lebih 1.000 warga Banjaragung berunjuk rasa di Kantor Bupati  Tulangbawang. Mereka mengamuk dan memecahkan seluruh kaca kantor, membakar  satu unit mobil dan melukai seorang pegawai.
Berbagai persitiwa tersebut terjadi pada tahun 1999 yang lalu, sedang peristiwa yang paling akhir umpamanya adalah  meledaknya bom di Hotel JW.Marriott Jakarta. “Ledakan  bom di depan Hotel JW.Marriott, Jakarta, kemarin mirip dengan bom Bali, 12 Oktober 2002. Bom yang menewaskan 16 orang dan 149 luka-luka ini sama-sama menggunakan mobil sebagai pembawa bom dengan daya ledak yang besar.7
    Itulah sebahagian dari deretan peristiwa yang menimbulkan kegelisahan hidup akhir-akhir ini. Mulai keadaan anak SD yang sudah meminum pil narkotik dan zat adiktif, bentrok  antar  warga yang bernuansa SARA, warga yang mengalami perampokan dengan  kekerasan,   tindakan   aparat  keamanan   yang merusak fasilitas umum, sampai terjadi bentrok antara warga dengan aparat keamanan, bahkan terenggutnya banyak nyawa manusia akibat ledakan bom. Dan masih banyak lagi peristiwa lain yang terjadi pada tahun 2000, 2001 dan 2002.  Apa yang terjadi pada deretan peristiwa di atas adalah  rangkaian peristiwa  yang berkaitan dengan masalah etika sosial yang  sudah rapuh, dan merupakan konflik sosial. Keadaan ini diakui oleh bangsa Indonesia yang diwakili oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) yang tercantum dalam GBHN 1999-2004.
Konflik sosial dan menguatnya  gejala  disintegrasi di  berbagai daerah seperti
di Maluku merupakan gangguan bagi keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang kalau tidak segera ditanggulangi akan dapat mengancam keberadaan dan kelangsungan hidup bangsa dan negara. Khusus bagi Daerah Istimewa Aceh dan Irian Jaya hal-hal tersebut lebih merupakan ketidakpuasan terhadap kebijakan pemerintah pusat yang perlu segera dikoreksi dengan cepat dan tepat.8     Bukankah selama ini bangsa Indonesia dikenal sebagai bangsa yang memiliki etika sosial yang penuh toleransi dan keakraban hidup dalam masyarakat  yang majemuk. Kenyataan telah terjadi berbagai peristiwa yang bertentangan dengan kebiasaan dan situasi bangsa Indonesia dalam kehidupan pergaulan antar bangsa. Kondisi ini akan dikaji dari segi perubahan dan perkembangan masyarakat. Apa yang menyebabkan terjadinya perubahan dan perkembangan sikap dan tindakan yang menggelisahkan tersebut. Kemudian bagaimana proses tersebut dapat terjadi serta tindakan apa yang harus dilakukan untuk menanggulangi masalah tersebut.

B. Keterpurukan Etika Sosial
    Adanya berbagai bentrokan dan kerusuhan yang terjadi  tentunya  bukan semata-mata masalah bentrokan dan kerusuhan  itu  sendiri, tetapi perlu dicari penyebabnya. Peristiwa yang terjadi dalam lingkungan masyarakat atau dapat  disebut sebagai  kondisi yang  merupakan  masalah sosial. Lebih tegas lagi keadaan  yang terjadi sudah dapat disebut sebagai “konflik sosial”. "Konflik yaitu sesudah  timbul emosi, rasa benci dan rasa  marah, sehingga  pihak-pihak  yang bersangkutan  ingin menyerang, melukai, merusak  atau memusnahkan pihak yang lain".9 Begitulah keadaan yang telah terjadi terbukti ada pihak-pihak yang  menyerang, melukai  pihak lain, merusak bahkan memusnahkan pihak  dan  bangunan atau benda-benda yang mereka jumpai. Dalam  hal  ini  Lewis Coser mengatakan  dalam  bukunya  The Function of Social Conflict "… bahwa terjadinya konflik sosial bisa dilihat  sebagai  hal yang memiliki akibat pemersatu  yang vital melalui  pelepasan ketegangan dan membentuk suatu  rantai  penyesuaian  diri...".  Memperhatikan kenyataan  yang terjadi dalam masyarakat dapat dinyatakan bahwa untuk sebagian masyarakat cenderung menumbuhkan kesadaran dan penyesuaian diri sehingga  mereka makin  bersatu. Tetapi kebersamaan dan kesatuan hanya terdapat pada kelompok-kelompok tertentu dalam kehidupan masyarakat, bukan keseluruhan anggota masyarakat. Akibatnya ialah konflik masyarakat  semakin  tinggi dan semakin sering  terjadi. Apalagi  kalau diperhatikan persoalan yang dialami oleh kelompok tertentu dengan berbagai  hal yang menghimpit kehidupan mereka, sangat  mungkin bahwa  munculnya tindak kekerasan ataupun wujud  konplik lainnya sebagai manifestasi dari rasa ketidak puasan. Muncul keluar dalam bentuk pelepasan ketegangan perasaan yang selama ini menghambat mereka.   Bahkan menurut Riggs mengungkapkan hal tersebut yang memberikan istilah  dengan tipe  masyarakat  “clect” yang merupakan gabungan istilah clique dan sects, adalah "tipe organisasi sosial yang secara selektif menggabungkan  elemen strukural, baik yang berasal dari komunitas  yang tergabung  (fused)  maupun dari masyarakat yang terurai  (diffracted society)".  Setiap anggota  "clect" berasal dari  komunitas khusus. "Clect" menerapkan norma-normanya secara selektif terhadap anggota komunitas. "Clect” menimbulkan dan  memperdalam perpecahan  yang  terdapat di dalam masyarakat serta menghambat kemajuannya dengan jalan menghambat perubahan fungsi integratif masyarakat menuju kesatuan masyarakat nasional. Dari ungkapan di atas, tidak diragukan bahwa  pertikaian, konflik  yang  terjadi di kalangan masyarakat sekarang  ini akan sukar  diselesaikan  selama kondisi penghambat perubahan fungsi integratif masyarakat menuju kesatuan masyarakat nasional  tidak bisa  dihilangkan. Dengan makin dalamnya konflik di  masyarakat, maka akan makin terpuruk pula etika sosial, karena masing-masing kelompok lebih mendahulukan kepentingan kelompoknya.
B.     Dinamika Struktural Pendidikan
 Sebenarnya akar terpuruknya etika sosial dengan makin maraknya konflik yang terjadi dalam kalangan masyarakat Indonesia saat ini dapat dikaji dari segi dinamika struktural pendidikan yang berlangsung selama ini. Sebagai gambaran bagaimana kondisi  hasil pendidikan  di Indonesia yang menggambarkan kualitas sumber  daya manusia  yang rendah terungkap melalui laporan UNDP  (United Nations  Development  Programme)  yang berjudul: Human  Development Report 1996  berikut ini. "Dari 174 negara  di  dunia,  Indonesia berada pada peringkat ke- 102".  Data lain yang bersumber dari "Human Development Report 2003 terungkap bahwa peringkat Human Development Index (HDI) Indonesia menempati urutan ke 112 dari 175 negara".   Dapat dibayangkan betapa rendahnya daya saing SDM Indonesia untuk memperoleh posisi kerja yang baik dalam era global abad 21. Gambaran perbandingan dengan negara tetangga sesama  anggota ASEAN sebagai berikut. "Singapura berada pada peringkat 34, Brunai Darussalam 36, Thailand 52, dan Malaysia berada pada peringkat 53".  Dalam perbandingan pada tingkat regional pun, SDM Indonesia masih sangat rendah. Dapat pula kita sebutkan sebenarnya secara rata-rata tingkat kecerdasan bangsa Indonesia saat ini masih pada tingkatan lulus sekolah dasar. Ini terbukti bahwa pemerintah memprogramkan wajib belajar 9 tahun,  dengan harapan bila program tersebut berhasil maka bangsa Indonesia akan mencapai  tingkat kecerdasan setingkat lulusan sekolah lanjutan tingkat pertama.
    Bagaiamana dinamika struktural pendidikan Indonesia sehingga tingkat sumber  daya manusianya masih relatif sangat  rendah ? Lebih  khusus  mengapa sikap dan  perilaku  masyarakat  Indonesia menjadi sangat terpuruk sehingga etika sosialnya menjadi  menurun bila ditinjau dari wujud adanya kerusuhan dan konflik yang terjadi.
    Pendidikan merupakan  salah  satu bidang  yang  sejak  awal  kemerdekaan telah memperoleh perhatian dari pendiri negara  Republik Indonesia ini. Terbukti masalah pendidikan tercantum  dalam UUD 1945 pasal 31.(1) Tiap-tiap warga negara berhak mendapat pengajaran. (2) Pemerintah  mengusahakan  dan  menyelenggarakan  satu  sistem  pengajaran nasional, yang diatur dengan undang-undang. Berdasarkan ayat (1) tersebut maka setiap warga negara mempunyai hak untuk memperoleh pengajaran. Ketentuan ini sebagai landasan untuk meningkatkan  kualitas dan kecerdasan  bangsa  Indonesia. Sebab salah satu tolok ukur keberhasilan bangsa Indonesia dilihat dari  pencapaian  tujuan nasionalnya  antara  lain: "mencerdaskan kehidupan  bangsa".  Untuk mewujudkan tujuan nasional dan sekaligus merealisasikan ayat (2) pasal 31 UUD 1945, Indonesia telah berhasil  membuat peraturan  perundang-undangan pendidikan  berupa "Undang-Undang Republik Indonesia No.4 Tahun 1950 tentang Dasar-Dasar Pendidikan dan Pengajaran Di Sekolah."  Untuk memberlakukan UU No. 4 Tahun 1950 tersebut ditetapkan UU No. 12 Tahun 1954 tentang Pernyataan  Berlakunya UU No. 4 Tahun 1950 untuk Seluruh Indonesia. Dalam usaha dan kegiatan pembangunan nasional, masalah pendidikan kembali  memperoleh perhatian yang cukup  besar. Hal ini tercantum  dalam Ketetapan MPR.RI.No.IV/MPR/1973 tentang Garis-Garis Besar Haluan Negara.
 "Pendidikan pada hakekatnya adalah usaha sadar untuk mengembangkan kepribadian dan kemampuan di dalam dan di luar sekolah dan berlangsung seumur hidup".  Bahkan untuk mengarahkan pelaksanaan  pendidikan di Indonesia, telah pula ditetapkan  UU RI No.2 Tahun  1989 tentang Sistem Pendidikan  Nasional, yang sekaligus membatalkan UU RI No.4 Tahun 1950. Dalam pasal 4 UU.RI No.2 Tahun 1989,  antara lain menyebutkan bahwa
Tujuan  pendidikan  nasional adalah mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang  beriman dan bertaqwa   terhadap  Tuhan  Yang Maha Esa dan berbudi  pekerti  luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan  rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggung  jawab kemasyarakatan dan kebangsaan. Dalam pada itu ketentuan pasal 39 ayat (2) mencantumkan bahwa:
Isi  kurikulum  setiap jenis, jalur dan jenjang  pendidikan  wajib memuat:
a. pendidikan Pancasila;
b. pendidikan agama; dan
c. pendidikan kewarganegaraan.
    Melalui  ketiga  materi  pendidikan di  atas  berarti  usaha pendidikan telah diarahkan agar membentuk manusia Indonesia  yang berkepribadian Pancasila melalui pendidikan mental dan pembentukan kepribadian yang berlandaskan jiwa agama. Kemudian  untuk  meningkatkan usaha pendidikan,  dalam  GBHN 1993, pendidikan justru menjadi salah satu sasaran bidang  pembangunan nasional, yang disebut dengan istilah: Sasaran Bidang Kesejahteraan Rakyat, Pendidikan dan Kebudayaan, disebutkan:
Terwujudnya  kehidupan masyarakat yang makin sejahtera  lahir batin secara adil dan merata, terselenggaranya pendidikan nasional dan pelayanan kesehatan yang makin bermutu dan  merata yang  mampu  mewujudkan manusia yang beriman  dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, berbudi pekerti luhur, tangguh,  sehat,  cerdas, patriotik, berdisiplin, kreatif, produktif dan profesional, makin  mantapnya budaya bangsa  yang tercermin dalam  meningkatnya peradaban,  harkat dan martabat manusia Indonesia, dan memperkuat jati diri dan kepribadian bangsa.

Dengan sangat rinci diungkapkan tentang rencana yang akan dicapai melalui usaha pendidikan yang dilakukan Bangsa Indonesia. Terungkap bahwa manusia Indonesia adalah mansusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, berbudi pekerti luhur, tangguh, sehat, cerdas, patriotik, berdisiplin, kreatif, produktif dan professional. Itulah gambaran sosok manusia Indonesia yang akan terwujud bila pendidikan dapat dilaksanakan. Usaha untuk menunjang agar pendidikan dapat terlaksana dengan baik, maka UU No. 2 Tahun 1989 telah pula diperbaharui dengan terwujudnya Undang-undang nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Pada fungsi dan tujuan pendidikan nasional tercantum bahwa "Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermanfaat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

    Berdasarkan ketentuan yang tercantum dalam peraturan perundang-undangan sebagaimana tersebut di atas, di samping beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, mansusia Indonesia haruslah menjadi manusia yang berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggungjawab. Masalah manusia Indonesia harus menjadi manusia yang mandiri ternyata menjadi perhatian yang cukup besar dan telah banyak usaha yang ditempuh oleh Negara agar meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia. Hal ini pun sejalan dengan apa yang  dikemukakan oleh Wolfe pemimpin Commision on Human Resources of  Specialized  Talents di Amerika pada tahun 1954: survival itself  may depend  on making the most effective use of the nations's  intellectual resources.  Kelangsungan hidup sendiri  mungkin bergantung pada pemanfaatan paling efektif dari sumber  daya  intelektual suatu negara. Dengan diselenggarakan pendidikan mulai tingkat sekolah dasar hingga perguruan tinggi tentu dimaksudkan agar sumber daya intelektual negara Indonesia akan makin meningkat dan makin mampu mandiri menghadapi kenyataan kehidupan dunia yang makin kompleks.
D. Analisis Dalam Konfigurasi Faktor Dominan dan Jalan Keluar
    Berdasarkan data tersebut di atas, seharusnya dengan langkah  perkiraan bahwa  keterpurukan nilai etika sosial  bangsa  adalah akibat dari hasil pendidikan, dapat ditolak. Apalagi usaha pendidikan  jauh sangat maju dan lebih luas bila dibandingkan  dengan apa yang telah dilakukan pemerintah penjajah, khususnya pemerintah Hindia Belanda.  Dari keterangan Menteri Pendidikan Dasar dan Kebudayaan Ny. Artati Marzuki dalam bulan Mei 1965 dapat diketahui hal-hal berikut   :1.    Dalam masa 20 tahun maka pendididkan meningkat sampai 40 kali dibandingkan dengan masa penjajahan.
      2.   Jumlah sekolah dasar meningkat                                    222 %
            Jumlah sekolah lanjutan pertama meningkat                  638 %
            Jumlah sekolah lanjutan atas meningkat                         579 %
      3.   Jumlah murid Sekolah dasar meningkat                          403 %
            Jumlah murid Sekolah Lanjutan Pertama meningkat           1.909 %
            Jumlah murid Sekolah Lanjutan atas meningkat                  4.074 %
4.    Jumlah Pendidikan Tinggi zaman penjajahan  5 buah, sekarang : negeri  36 buah  setengah negeri  80 buah   swasta   193 buah
      5.   Jumlah Mahasiswa :
       zaman penjajahan          800        orang
            sekarang                      125.000     orang
    Data  tahun  1965 sudah menunjukkan  peningkatan  yang  luar biasa. Apalagi setelah pelaksanaan pembangunan nasional  melalui PJP I dan Pelita VI serta masa sekarang ini tentunya bertambah meningkat. Melalui pendidikan diarahkan untuk pelaksanaan pembangunan dan peningkatan individu warga negara di samping diarahkan untuk pembangunan sosial. Makna pembangunan sosial yaitu :
    "Pembangunan  Sosial" tidak hanya diukur melalui  peningkatan akses pelayanan seperti kesehatan, pendidikan, dan  kesejahteraan,  melainkan melalui kemajuan dalam  pencapaian  tujuan sosial yang lebih kompleks dan kadang-kadang beragam  seperti persamaan,  keadilan sosial, promosi budaya, dan ketentraman batin, juga peningkatan kemampuan manusia  untuk bertindak, sehingga potensi kreatif mereka dapat dikeluarkan dan membentuk perkembangan sosial".

    Faktor dominan  yang dapat mempengaruhi sikap  dan  tingkah laku etika sosial yang rendah meskipun telah melalui usaha pendidikan  antara lain landasan atau asas pembangunan nasional.  Pada awal  bangsa  Indonesia mencanangkan usaha pembangunan  nasional yang pelaksanaannya telah dimulai sejak tahun 1969 dengan pelaksanaan pembangunan Lima Tahun yang pertama, asas utamanya  adalah asas manfaat.
    "Asas Manfaat, ialah bahwa segala usaha dan  kegiatan  pembangunan harus dapat dimanfaatkan sebesar-besarnya bagi kemanusiaan, bagi peningkatan kesejahteraan Rakyat dan bagi pengembangan pribadi Warga Negara."
    Akibat dari kegiatan pembangunan harus  dapat  dimanfaatkan sebesar-besarnya  bagi kemanusiaan, ialah munculnya  sikap  hidup yang  penting  adalah bermanfaat. Ini menimbulkan  sikap  untuk mengejar  "materi" yang sebanyak-banyaknya agar dapat  bermanfaat dalam  kehidupan  yang sedang dialami. Pengaruh yang  diperoleh adalah lebih mengutamakan  peningkatan materiil  daripada peningkatan spiritual. Sikap hidup sehari-hari juga akan lebih menonjolkan kelebihan penguasaan materi. Sikap konsumeris dalam  kehidupan lebih  meningkat akibat penguasaan materi dari hasil  usaha  yang dilakukan.  Ini dibuktikan dengan meningkatnya   tingkat  gangguan jiwa  dari  tingkat  yang paling rendah sampai  ke tingkat  yang tinggi  sebagaimana  dilaporkan Departemen  Kesehatan.  Penderita gangguan jiwa sebelum tahun 1988 berkisar antara 1 sampai 3 orang di antara 1000 orang Indonesia. Data pada tahun 1988  menunjukkan peningkatan  yaitu  3 sampai 6 orang di antara 1000  orang,  yang mengalami gangguan jiwa. Sedang data pada tahun 1996 sudah mencapai 10,8 juta orang yang mengalami gangguan jiwa. Padahal tujuan pembangunan nasional adalah untuk mewujudkan suatu masyarakat adil dan makmur yang merata materiil dan spirituil. Dengan demikian tujuan yang dimaksud tidak tercapai akibat dari adanya  salah  satu asas pembangunan  nasional  yaitu  asas manfaat.
Adanya ketentuan yang terdapat dalam Ketetapan MPR sebagai Lembaga Tertinggi Negara dengan sendirinya sangat berpengaruh dalam pelaksanaan kegiatan pendidikan nasional secara keseluruhan. Hal tersebut terjadi karena struktur pendidikan di Indosnesia yang menganut ssstem  sentralisasi yaitu semua langkah dan tindakan pendidikan ditentukan berdasarkan ketentuan yang telah ditetapkan oleh pusat. Dengan asas utamanya adalah asas manfaat, maka dalam pendidikanpun diusahakan agar bagaimana memperoleh manfaat yang sebesar-besarnya.
Akibatnya warga negara berusaha tanpa mengindahkan dari mana sumber memperoleh materi yang akan dimanfaatkan  tersebut. Mungkin dari sesuatu yang haram atau tidak sesuai dengan ketentuan agama, asal bermanfaat tetap diusahakan. Sudah tentu hasil usaha  pembangunan akan sangat mempengaruhi mental generasi muda yang memanfaatkan hasil usaha dari sumber yang haram tersebut. Keadaan yang berlangsung selama 25 tahun, kemudian  disadari oleh wakil rakyat melalui MPR.RI pada tahun 1993  akhirnya  asas utama dirubah menjadi asas Keimanan dan Ketaqwaan terhadap  Tuhan Yang Maha Esa.
    Bahwa segala usaha dan kegiatan pembangunan nasional dijiwai,    digerakkan,  dan  dikendalikan oleh  keimanan  dan  ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa sebagai nilai luhur yang menjadi   landasan spirituil, moral, dan etik dalam rangka  pembangunan nasional sebagai pengamalan Pancasila. 

Kesadaran  tersebut  sudah terlambat, karena  telah  berlaku selama 25 tahun yang berarti telah menghasilkan paling tidak satu generasi penerus yang dijiwai oleh sikap mementingkan materi atau bersikap materialis. Untuk merubah sikap dari materialis  kembali ke  jalan yang benar yaitu kerseimbangan antara materiil  dengan spirituil  dengan  landasan agama  yang kuat  bukanlah  hal  yang mudah.  Keadaan itu tetap berlangsung  dan  dirasakan  dampaknya sampai saat ini. Memperhatikan usaha yang ditempuh untuk bertindak lebih arif yaitu menetapkan asas utama pembangunan nasional berupa asas Keimanan dan Ketaqwaaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa,  merupakan usaha yang sudah benar. Bagi bangsa Indonesia adanya asas pertamanya adalah asas Keimanan dan Ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa karena bangsa Indonesia adalah bangsa yang dikenal dengan istilah bangsa religius. Dengan kondisi sebagai bangsa yang religius maka tepatlah jika asas pembangunan nasionalnya adalah asas Keimanan dan Ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Sehingga sebenarnya bagi bangsa Indonesia telah mengalami kekeliruan dalam menetapkan asas pembangunan nasionalnya yang berlangsung selama 25 tahun  dengan asas pertamanya adalah asas manfaat tersebut. Kekeliruan tersebut berarti juga telah menyimpang dari ideologi Pancasila.
Kalau selama ini telah terjadi penyimpangan tersebut, dinyatakan pula dalam pernyataan Wakil Rakyat dalam GBHN 1999-2004 sebagai berikut:
Penyelenggaraan negara yang menyimpang dari ideologi Pancasila dan mekanisme Undang-Undang Dasar 1945 telah mengakibatkan     ketidakseimbangan kekuasaan di antara lembaga-lembaga  negara dan  makin jauh dari cita demokrasi  dan kemerdekaan  yang ditandai dengan berlangsungnya sistem kekuasaan yang bercorak  absolut  karena  wewenang dan kekuasaan Presiden  berlebihan yang melahirkan budaya korupsi, kolusi, dan nepotisme sehingga terjadi krisis multi dimensional pada hampir seluruh aspek kehidupan.

Pengakuan akan adanya penyimpangan yang berlangsung selama ini adalah kondisi yang menimbulkan angin segar untuk bertindak lebih baik lagi. Bukti kongkrit jalan keluar telah pula ditetapkan antara lain dalam bidang agama dan pendidikan sebagai  berikut.
1)    Meningkatkan fungsi, peran, dan kedudukan agama sebagai landasan moral, spiritual, dan etika dalam penyelenggaraan negara serta mengupayakan agar segala peraturan perundang-undangan tidak bertentangan dengan moral agama-agama.
2)    Meingkatkan kualitas sumber daya manusia sedini mungkin secara terarah, terpadu, dan menyeluruh melalui berbagai  upaya proaktif dan reaktif oleh seluruh komponen bangsa agar generasi muda dapat berkembang secara optimal disertai dengan hak dukungan dan lingkungan sesuai dengan potensinya
    Jalan keluar yang telah ditetapkan perlu ditindak lanjuti dengan pelaksanaan yang lebih kongkrit dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara di Indonesia sehingga etika sosial akan pulih dan bahkan kualitasnya meningkat lebih baik lagi. Struktur pendidikan yang pada mulanya bertumpu pada system sentralisasi kini telah di ubah dengan system desentralisasi. Titik pangkal asas pembangunan yang pada mulanya berasaskan manfaat untuk asas pertamanya, kini telah berubah dengan asas Keimanan dan Ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
    Lebih khusus lagi bagi masyarakat Islam Indonesia sebagai salah satu bagian Bangsa Indonesia sebenarnya kita telah mempunyai pedoman yang jelas sebagaimana diungkapkan dalam kitab suci Al Quran maupun dalam Hadits Rasul. Sebagai seorang muslim langkah berpijaknya terletak pada pedoman Al Quran dan Hadits. Antara lain disebutkan :
قََدْ أَفْلَحَ المُوءْ مِنُوْنَ(1) ... وَالِّذِيْنَ هُمْ لأَِمَنَتِهِم رَعُوْنَ(8)
(
الموء منون23 : 1&8 )

1.    Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman.   ……………
8.    Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan
Janjinya. (Al Mukminun 23:1 & 8).

Dari ayat tersebut terungkap bagaimana sebenarnya kondisi orang yang beriman yang telah dijanjikan oleh Allah SWT.  Manusia yang beriman adalah manusia yang senantiasa memperoleh keberuntungan. Ini menunjukkan bahwa ilmu orang yang beriman akan senantiasa bertambah, rizki juga akan bertambah, kemantapan menghadapi hari esokpun akan tetap terjaga. Lain dari itu disebutkan dalam surat Al Mukminun tersebut bahwa di samping orang yang beriman, maka orang-orang yang memelihara amanat adalah termasuk orang yang beruntung. Orang yang memelihara amanat adalah orang yang diberi kepercayaan dan tanggungjawab melaksanakan suatu tugas tertentu atau seseorang yang diberi amanat jabatan tertentu.
Tugas dan jabatan tertentu merupakan amanat berarti seseorang yang memangku jabatan tersebut menyadari bahwa tugas dan wewenang yang diemban tersebut adalah tanggungjawab sebagai seorang pemimpin. Rasul menyatakan hal tersebut dalam sebuah Haditsnya sebagai berikut:
أَنَّ عَبْدَ اللهِ بْنَ عُمَرَ يَقُوْلُ سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَقُوْلُ كُلُّكُمْ رَاع ٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُلٌ  عَنْ رَعِيَّتِهِ الأِمَامُ رَاع ٍ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ  وَالرَّجُلُ رَاع ٍ فِى أَهْلِهِ وَهُوَ مَسْئُلٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ وَالْمَرْأََةُ رَاعِيَّةٌٌ فِى بَيْتِ زَوْجِهَا وَمَسْئُلَةٌٌ عَنْ رَاعِِيَّتِهَا  وَالخَادِمُ رَاع ٍ فِى مَالِ سَيِّدِهِ وَمَسْئُلٌ عَنْ  رَعِيَّتِهِ قَالََ وَحَسِبْتُ أَنْ قَدْ قَالَ  وَالْرَّجُلُ رَاع ٍ فِى مَالِ أَبِيْهِ وَمَسْئُلٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ وَكُلُّكُمْ رَاع ٍ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ. (رواه البخاري)
Bahwa Abdullah Ibnu Umar berkata : Saya telah mendengar Rasulullah SAW bersabda  Setiap kamu adalah pemimpin dan setiap kamu bertanggungjawab terhadap kepemimpinannya. Seorang Imam adalah pemimpin dan bertanggungjawab terhadap kepemimpinannya. Seorang laki-laki adalah pemimpin dalam keluarganya dan dia bertanggungjawab terhadap kepemimpinannya. Seorang ibu adalah pemimpin dalam wilayah rumah  suaminya dan bertanggungjawab terhadap kepemimpinannya. Seorang pelayan adalah pemimpin terhadap harta tuannya dan bertanggungjawab terhadap kepemimpinannya. Abdullah Umar telah berkata : Saya memperkirakan Rasul telah bersabda bahwa seseorang laki-laki adalah pemimpin terhadap harta orangtuanya dan bertanggungjawab terhadap kepemimpinannya dan setiap kamu adalah pemimpin dan bertanggungjawab terhadap kepemimpinannya.(H.R. Bukhari).
    Berdasarkan hadist di atas maka setiap individu kita sebagai muslim adalah pemimpin, dan setiap pemimpin harus bertanggungjawab terhadap apa yang ia pimpin. Oleh karena itu orang yang memperoleh amanat yang digolongkan kepada orang yang beruntung hendaknya melaksanakan tugas dengan sebaik-baiknya sekaligus menunjukkan rasa tanggungjawab sebagai pemimpin terhadap keadaan dan situasi yang dipimpinnya.
E. Kesimpulan
    Salah satu sebab timbulnya berbagai kerusuhan yang melanda berbagai kota besar Indonesia adalah terletak pada dinamika struktural pendidikan yang mengacu pada sistem sentralistik. Di antaranya dapat diiungkapkan bahwa berdasarkan asas pembangunan nasional yang pertama adalah manfaat, maka tujuan pendidikan yang diterapkan ke seluruh wilayah Indonesia ialah agar para peserta didik memperoleh manfaat dengan mengejar kepentingan dan keunggulan materi. Akibat lebih jauh menumbuhkan kelompok masyarakat yang disebut "clect"  yang menerapkan norma-norma kehidupannya berdasarkan keunggulan materi dalam lingkungan kelompoknya masing-masing. Kondisi inilah yang makin memperuncing perbedaan dan mudah menimbulkan konflik di antara kelompok-kelompok masyarakat yang ada.
    Kesadaran akan adanya kekeliruan penerapan asas pembangunan manfaat dengan sistem sentralistik pendidikan segera diubah pada tahun 1993 dengan asas Keimanan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan sistem desentralisasi pendidikan.


DAFTAR KEPUSTAKAAN
Craib, Ian. (1992). Modern Social Theory: From Parsons  to  Hebermas. (Baut,Paul  S - Efendi,T. Terjemahan).  Wheatsheaf Books Ltd. Buku asli diterbitkan tahun 1984.

Departemen Agama RI, Al Quran dan Terjemahnya, (Semarang, CV.Toha Putra, 1989).

Draft Rencana Pembangunan Jangka Menengah (PJM) Tahun 2005-2009, (Jakarta, Kantor Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional, 2003).

Hoogvelt, Ankie M.M., (1995). Sosiologi Masyarakat Sedang Berkembang (Alimandan.  Terjemahan). (The Macmilan Press Ltd.  Buku  asli diterbitkan tahun 1976).

Imam Bukhari, Shahih Imam Bukhari  Jilid I, Darul Fikri, tt.
 
Jawa Pos, Rabu Wage 6 Agustus 2003

Karabel, Jerome and Halsey, A.H. Power and Ideology In Education. (New York: Oxford University Press, 1977).

Kedaulatan Rakyat, Selasa Pon 31 Agustus 1999.

Ketetapan-Ketetapan MPR.RI 1973, (Surabaya: PT.Bina Ilmu, 1973).

Ketetapan-Ketetapan MPR.RI Maret 1993, (Jakarta: Sekretariat Jenderal MPR RI, 1993).

Ketetapan-Ketetapan MPR.RI Tahun 1999, (Surabaya: Arkola, 1999).

Moeljarto T. Politik Pembangunan: Sebuah Analisis  Konsep, Arah dan Strategi. (Yogyakarta: PT.Tiara Wacana Yogya, 1987).

Poerbakawatja, Soegarda. Pendidikan  Dalam  Alam Indonesia Merdeka. (Jakarta: Gunung Agung, 1970).

Polak, J.B.A.F. Major., Sosiologi: Suatu Buku Pengantar Ringkas. (Jakarta: Penerbit dan Balai Buku Ichtiar, 1971).

Republika,  Kamis 7 Oktober 1999.

Spiegel, Henry W. The Growth of Economic Thought: Revised and Expanded Edition. (Durham, North Carolina: Duke University, 1983).

Suyanto. Mencari Paradigma Baru Sistem Pendidikan Nasional Menghadapi Milenium Ketiga. (Makalah pada Seminar Pendidikan Nasional  Tahun 1999).

Tempo, Edisi 23-29 Agustus 1999, Jakarta.

Undang-Undang  Republik  Indonesia  Nomor 2  Tahun  1989  Tentang Sistem Pendidikan Nasional. (Klaten: PT. Intan Pariwara, 1989).

Undang-Undang  Republik  Indonesia  Nomor 20  Tahun  2003  Tentang Sistem Pendidikan Nasional. (Yogyakarta: Media Wacana, 2003).



Rahmat, Drs.H. M.Pd.,  kelahiran Tanjungpinang, Kep.Riau, 2 Januari 1942. Menyelesaikan pendidikan S-2 UNY program studi PIPS kekhususan Pendidikan Nilai pada tahun 2002. S-1 diselesaikan pada tahun 1970 pada Fak.Tarbiyah IAIN Suka Yogyakarta. Post Graduate Course Dosen IAIN ditempuh pada tahun 1973, kemudian mengikuti Studi Purna Sarjana tahun 1977-1978. Saat ini bekerja sebagai dosen pada Fakultas Tarbiyah IAIN Suka Yogyakarta. Berbekal AMDAL A dan AMDAL  B dari UGM, pernah duduk sebagai anggota PSL.IAIN Suka Yogyakarta sejak tahun 1985, serta mengikuti konferensi PSL dan symposium/seminar lingkungan hidup, baik nasional maupun internasional. Di antara karya ilmiah sesuai mata kuliah yang dipegang yaitu ilmu jiwa, antara lain Pokok-Pokok Ilmu Jiwa Perkembangan, Ilmu Jiwa Anak I dan Ilmu Jiwa Anak II.